MANOKWARI,PinFunPapua.com – Tepuk tangan panjang menggema sesaat setelah Kontingen Provinsi Maluku menuntaskan penampilannya pada kategori Musik Pop Gerejawi (MPG) Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat. Harmonisasi vokal yang berpadu dengan aransemen musik yang kuat berhasil memukau penonton dan menghadirkan suasana khidmat di arena perlombaan.
Namun, di balik penampilan yang menuai apresiasi itu, Maluku ternyata datang bukan dengan ambisi mengejar gelar juara. Bagi mereka, panggung Pesparawi lebih dari sekadar kompetisi, melainkan ruang untuk mempersembahkan pujian terbaik bagi Tuhan.
Pengurus Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Maluku, James Risakotta, mengatakan sejak awal seluruh anggota kontingen tidak menjadikan hasil akhir sebagai tujuan utama.
“Kami tidak berpikir soal hasil atau juara. Yang penting apa yang sudah kami latih bisa tersampaikan dengan baik, puji-pujian itu sampai ke hati orang dan memuliakan nama Tuhan. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami,” kata James usai penampilan tim Maluku.
Menurut dia, persiapan menuju Pesparawi Nasional XIV telah dilakukan selama lebih dari dua bulan. Memasuki satu bulan terakhir menjelang perlombaan, intensitas latihan semakin ditingkatkan demi mematangkan kualitas vokal dan penampilan tim.
Meski tidak memasang target medali, Maluku tetap berupaya menampilkan kemampuan terbaik yang dimiliki. Fokus utama mereka adalah menghasilkan aransemen yang kuat, kemampuan vokal yang matang, dan penampilan yang mampu menyentuh hati para pendengar.
“Kami hanya berusaha mencapai batas maksimal kami. Secara aransemen, skill, maupun performa, kami ingin memberikan yang terbaik karena ini dilakukan secara total untuk Tuhan,” ujarnya.
Penampilan peserta Musik Pop Gerejawi Maluku merupakan hasil kolaborasi tim pelatih dan arranger yang dipimpin Igor Supamina dan Rido Inama pada bidang musik. Sementara pembinaan vokal turut diperkuat oleh Utari Reas.
Bagi James, momen paling berkesan justru bukan ketika tepuk tangan penonton bergemuruh, melainkan saat suasana di dalam ruangan berubah menjadi penuh penghayatan. Ia merasakan Pesparawi tak lagi sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi ruang ibadah bersama melalui lantunan musik dan pujian.
“Yang saya lihat bukan lagi ajang perlombaan. Semua penonton seperti sedang menyembah Tuhan melalui musik yang dimainkan tim Maluku. Itu yang paling berkesan bagi kami,” katanya.
Kontingen Maluku sendiri datang ke Manokwari dengan kekuatan lebih dari 400 orang yang terdiri dari peserta, official, dan para pendukung. Kehadiran mereka menjadi salah satu kontingen terbesar yang turut memeriahkan Pesparawi Nasional XIV.
Meski hasil penilaian dewan juri masih dinantikan, Maluku telah merasa memperoleh sesuatu yang lebih berharga dari sekadar medali. Bagi mereka, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pujian yang dipersembahkan mampu menyentuh hati banyak orang dan memuliakan nama Tuhan.
Di tengah persaingan antarkontingen dari seluruh Indonesia, Maluku memilih berjalan dengan keyakinan sederhana: bukan trofi yang dikejar, melainkan persembahan terbaik yang lahir dari pelayanan dan kasih kepada Sang Pencipta.
( Penulis : Dhy).
