Peserta Lokakarya II yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) di Kampung Wansra, Distrik Orkeri, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang berlangsung selama tiga hari. Mereka menilai lokakarya tersebut telah membuka wawasan masyarakat untuk membangun kemandirian melalui pemanfaatan potensi lokal. (FOTO : Aufrida Marisan )
NUMFOR, PinFunPapua.com – Peserta Lokakarya II yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) di Kampung Wansra, Distrik Orkeri, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang berlangsung selama tiga hari. Mereka menilai lokakarya tersebut telah membuka wawasan masyarakat untuk membangun kemandirian melalui pemanfaatan potensi lokal.
Salah seorang pemuda yang tergabung dalam komunitas akar rumput Wansra, Spenyel Andarek, mengucapkan terima kasih kepada YP3SP yang telah memfasilitasi lokakarya kedua tersebut. Menurutnya, kegiatan itu menjadi titik awal terbentuknya kelompok kerja yang akan menjadi wadah pemberdayaan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa motivasi utama kelompok yang dibentuk adalah memberdayakan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki Kampung Wansra sehingga masyarakat tidak lagi bergantung kepada pihak lain.
“Kami ingin membangun kemandirian yang tumbuh dari diri sendiri. Potensi hasil laut dan hasil hutan yang kami miliki harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Spenyel mengatakan rencana aksi pertama yang telah disepakati adalah membentuk kelompok usaha yang akan mengembangkan produksi ikan asin. Program tersebut dipilih karena sebagian besar masyarakat Kampung Wansra berprofesi sebagai nelayan.
Selain itu, kelompok juga akan mengembangkan pengolahan buah mangrove menjadi tepung sebagai bahan pangan alternatif bagi masyarakat kampung sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Ia berharap tepung mangrove yang diproduksi masyarakat Wansra dapat dikenal secara luas sehingga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan mangrove sebagai sumber kehidupan.
Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan dukungan YP3SP, khususnya dalam peningkatan kapasitas, pemasaran produk, serta promosi hasil olahan masyarakat.

“Kami berharap YP3SP tetap bekerja bersama kami, terutama dalam memberikan pelatihan dan membantu memperkenalkan produk seperti ikan asin dan tepung mangrove kepada masyarakat yang lebih luas,” katanya.
Spenyel menyadari bahwa dalam perjalanan sebuah kelompok akan muncul berbagai tantangan. Namun, ia optimistis kelompok yang telah dibentuk mampu bertahan apabila seluruh anggota menjaga kebersamaan dan saling menghormati.
Ia juga menjelaskan bahwa kelompok perempuan yang dibentuk sebagian besar beranggotakan ibu-ibu karena mereka masih memiliki pengetahuan dan keterampilan mengolah buah mangrove menjadi tepung. Pengetahuan tersebut merupakan warisan yang mulai hilang di kalangan generasi muda.
“Melalui kelompok ini kami berharap pengetahuan tersebut dapat diwariskan kepada anak-anak muda di Kampung Wansra dan wilayah Numfor sehingga tidak hilang,” tuturnya.
Sementara itu, anggota komunitas akar rumput Wansra, Salomina Yoweni, mengaku bangga dapat mengikuti Lokakarya II yang difasilitasi YP3SP. Menurutnya, berbagai materi yang diperoleh akan diterapkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga tingkat distrik.
Ia mengatakan masyarakat Kampung Wansra telah menyepakati pembentukan kelompok kerja sebagai tindak lanjut dari lokakarya. Selama ini masyarakat menghadapi kendala dalam memasarkan hasil tangkapan karena penjualan hanya dapat dilakukan saat kapal singgah di kampung.
“Kami selama ini hanya mengandalkan penjualan ikan segar dan ikan asin ketika kapal datang. Karena itu, ilmu yang diberikan YP3SP sangat bermanfaat bagi kami dan kami akan melaksanakan rencana aksi yang telah disepakati,” ujarnya.
Di sisi lain, peserta baru dari komunitas Fyarkin, Sima Rumasep, juga menyampaikan apresiasi kepada YP3SP dan komunitas Fyarkin yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Ia mengaku sejak hari pertama mengikuti lokakarya merasakan kegembiraan sekaligus kekhawatiran. Namun, seluruh proses pembelajaran selama tiga hari membuatnya semakin berani dan memberikan pengalaman baru yang sangat berharga.
“Banyak pelajaran yang saya peroleh, terutama tentang pentingnya kebersamaan, saling mendukung, dan membangun kemandirian. Kami diajarkan untuk tidak bergantung kepada orang lain serta terus menambah pengetahuan,” katanya.
Sima berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga masyarakat memiliki kesempatan belajar bersama dan memperkuat kelompok yang telah dibentuk.
“Kami berharap YP3SP dan Fyarkin dapat kembali mengadakan kegiatan seperti ini karena menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi kami. Dengan begitu, apa yang telah kami rencanakan sebagai kelompok dapat kami kerjakan secara bersama-sama demi kemajuan masyarakat Kampung Wansra,” tutupnya. (red)
