Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) menyelenggarakan Lokakarya II selama tiga hari di Kampung Wansra, Distrik Orkeri, Pulau Numfor. Kegiatan ini diikuti oleh komunitas akar rumput Kampung Wansra bersama komunitas Fyarkin sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam membangun perubahan yang berangkat dari diri sendiri, keluarga, kampung, hingga distrik.
NUMFOR, PinFunPapua.com – Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) menyelenggarakan Lokakarya II selama tiga hari di Kampung Wansra, Distrik Orkeri, Pulau Numfor. Kegiatan ini diikuti oleh komunitas akar rumput Kampung Wansra bersama komunitas Fyarkin sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam membangun perubahan yang berangkat dari diri sendiri, keluarga, kampung, hingga distrik.
Lokakarya kedua ini merupakan kelanjutan dari lokakarya pertama yang telah dilaksanakan sebelumnya. Melalui kegiatan tersebut, komunitas akar rumput tidak hanya diajak merefleksikan kehidupan mereka, tetapi juga menyusun langkah-langkah nyata untuk mewujudkan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Salah satu hal yang paling menarik dalam lokakarya ini adalah semangat para peserta dari komunitas akar rumput Kampung Wansra yang sebagian besar merupakan orang tua. Meskipun telah lanjut usia, semangat mereka dalam membangun kampung dinilai mampu menginspirasi generasi muda. Mereka memiliki tekad untuk menghidupkan kembali kebun-kebun komunitas akar rumput melalui kegiatan penanaman, mengembangkan usaha pembuatan ikan asin, serta mengolah buah mangrove menjadi tepung sebagai sumber pangan sekaligus peluang ekonomi bagi komunitas akar rumput.
Selama tiga hari pelaksanaan, seluruh rangkaian kegiatan selalu diawali dengan sesi sentring yang dipandu oleh komunitas Fyarkin melalui musik, nyanyian, dan pembacaan puisi. Sesi tersebut menjadi ruang refleksi bagi seluruh peserta sebelum memasuki materi lokakarya.
Setelah sentring selesai, peserta dari komunitas akar rumput Wansra dan Fyarkin diberikan kesempatan untuk menyampaikan perasaan serta makna yang mereka rasakan dari musik dan puisi yang diperdengarkan.
Berbagai ungkapan muncul dari peserta. Ada yang merasa senang, nyaman, damai, tenang, hingga terhibur. Dari proses refleksi tersebut, peserta menyadari bahwa perubahan tidak dapat dimulai dari orang lain, melainkan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, kampung, hingga akhirnya memberikan dampak bagi distrik.

Selanjutnya, seluruh peserta bersama-sama menyusun aturan main yang akan menjadi pedoman selama lokakarya berlangsung. Sebanyak tujuh poin disepakati sebagai komitmen bersama dan harus dipatuhi oleh seluruh peserta agar proses belajar berjalan dengan baik.
Usai menyepakati aturan main, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi menggunakan Hollond (proses perubahan) yang di mulai dari diri sendiri, keluarga, kampung hingga Distrik. Dalam sesi ini, peserta diajak refleksi dari diri sendiri, kemudian keluarga, kampung, hingga lingkungan yang lebih luas.
Peserta kemudian mengikuti sesi Sungai Kehidupan, yaitu kegiatan menggambarkan perjalanan hidup selama enam bulan hingga satu tahun terakhir. Melalui gambar tersebut, setiap peserta mengungkapkan berbagai pengalaman hidup yang pernah dialami. Ada yang merasakan kesedihan, kemarahan, rasa syukur, kebahagiaan, hingga berbagai perasaan lain yang membentuk perjalanan kehidupan mereka.
Refleksi dilanjutkan dengan sesi Peta Dunia Saya. Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak mengenali berbagai kekhawatiran yang datang dari luar maupun dari dalam diri mereka. Selain itu, peserta juga diminta mengidentifikasi berbagai hal yang menjadi kebanggaan dalam kehidupan pribadi maupun komunitas.
Pada hari kedua, lokakarya berfokus pada refleksi melalui Pentas Komunitas yang dilaksanakan di Kampung Saribi. Pentas tersebut mengangkat nilai-nilai budaya masyarakat Biak, khususnya tradisi mengucapkan syukur dan memohon perlindungan kepada Tuhan yang perlahan mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang.

Melalui pertunjukan tersebut, peserta diajak menyadari pentingnya menjaga budaya, adat istiadat, dan spiritualitas sebagai bagian dari identitas masyarakat Biak.
Peserta juga mengikuti sesi Roda Kebutuhan Dasar, yaitu refleksi mengenai dua belas kebutuhan dasar manusia yang meliputi makan, air bersih, tempat berlindung, energi, pemahaman, identitas, partisipasi, kreativitas, rasa aman, istirahat, kemerdekaan, dan kasih sayang.
Melalui roda kebutuhan dasar tersebut, masyarakat diajak melihat kebutuhan apa saja yang mulai berkurang bahkan hilang dalam kehidupan mereka. Selain itu, peserta membandingkan berbagai kebiasaan masyarakat dahulu dengan kondisi saat ini. Refleksi tersebut bukan bertujuan mengajak masyarakat kembali hidup seperti masa lalu, melainkan menemukan kembali nilai-nilai positif serta kebiasaan baik yang dahulu dimiliki agar dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang.
Sementara itu, pada hari ketiga lokakarya, seluruh peserta diajak untuk lebih mengenal hubungan budaya dan spiritualitas masyarakat terhadap tanah sebagai sumber kehidupan. Tanah dipahami bukan sekadar tempat tinggal, tetapi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas, kehidupan, serta keberlangsungan masyarakat.
Sebagai penutup, seluruh komunitas menyusun rencana aksi yang akan dilaksanakan dalam tiga bulan ke depan. Rencana tersebut menjadi komitmen bersama untuk mengembangkan potensi kampung melalui kekuatan masyarakat sendiri, sehingga perubahan yang telah dirancang selama lokakarya dapat diwujudkan secara nyata dan berkelanjutan. (red)
