MANOKWARI,PinFunPapua.com– Tim 11 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) memperkuat kapasitas penanggung jawab sejumlah program strategis untuk mendukung terwujudnya desa sehat di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Penguatan tersebut dilakukan melalui workshop “Penguatan Kapasitas Penanggung Jawab Program Hidroponik, Biopori, Komposting, dan IPCLRT” yang digelar di Gedung Serbaguna Kampung (GSG) Sumber Boga, Rabu (26/8/2026).
Program revitalisasi desa sehat ini melibatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan kesehatan, bersama kader kesehatan, pemerintah kampung, dan perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Masyarakat didorong mampu mengembangkan berbagai program kesehatan dan lingkungan secara mandiri sehingga menjadi gerakan berbasis masyarakat.
Ketua Tim 11 TEP Unair, Dr Corie Indria Prasasti, SKM, MKes, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pengembangan desa sehat di kawasan transmigrasi Prafi.
“Melalui kegiatan ini, bagaimana kita bisa belajar bersama dalam percepatan desa sehat. Nantinya dibuatkan RTL (Rencana Tindak Lanjut) untuk memperkuat pelaksanaan program di empat kampung,” kata Corie di sela-sela kegiatan workshop.
Menurut dia, hasil workshop akan ditindaklanjuti melalui sejumlah pelatihan teknis. Materinya meliputi hidroponik, IPCLRT, komposting, biopori, serta sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM).
“Penguatan kapasitas penanggung jawab program lebih kepada pelatihan dan peningkatan keahlian teknis serta manajerial bagi pengelola agar program strategis pemberdayaan masyarakat berjalan baik,” ujarnya.
Hidroponik Jadi Program Baru
Corie yang juga Dosen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair itu mengatakan, salah satu program yang mendapat perhatian adalah pengembangan hidroponik.
Warga diberikan pelatihan mulai dari pembibitan, perakitan instalasi, pengaturan nutrisi tanaman, hingga manajemen operasional.
“Dari hasil pengecekan titik lokus di lapangan, hidroponik menjadi hal baru bagi masyarakat. Sehingga pelatihan ini diharapkan menjadi pionir untuk ke depan dapat dikembangkan di kampung-kampung lain,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan hidroponik tidak hanya diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan dan pola hidup yang lebih sehat.
Sementara itu, sinergi antara masyarakat, pemerintah kampung, kader kesehatan, dan perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus kesejahteraan warga.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan memperkuat upaya pencegahan penyakit serta menciptakan lingkungan yang mendukung penerapan perilaku hidup sehat.
“Program revitalisasi desa sehat diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dengan memanfaatkan kearifan dan potensi lokal sebagai kekuatan utama pembangunan kesehatan desa menuju desa sehat,” pungkas Corie.
(Rls/ Dhy)
