MANOKWARI,PinFunpapua.com– Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga mendorong pengembangan pertanian hidroponik bagi masyarakat Kampung Sumber Boga SP7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Program pemberdayaan masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman warga mengenai pola produksi dan konsumsi pangan yang bertanggung jawab sekaligus mendorong gaya hidup berkelanjutan di kawasan transmigrasi Prafi.
Melalui penyuluhan dan pelatihan, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi hidroponik sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah maupun komunitas.
Ketua Tim 11 TEP Kementrans 2026, Dr Corie Indria Prasasti, mengatakan pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga pengalaman praktik kepada masyarakat dalam menanam dan merawat berbagai jenis sayuran hidroponik.
“Pelatihan ini memberikan pemahaman mengenai keterkaitan antara ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan transmigrasi Prafi,” kata Corie di sela kegiatan penyuluhan dan pelatihan hidroponik di Kampung Sumber Boga, Kamis (3/9/2026).
Menurut Corie, hidroponik dapat menjadi alternatif produksi pangan yang efisien sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan pola hidup yang lebih ramah lingkungan.
Program tersebut, lanjut dia, juga menyasar generasi muda agar dapat mengambil peran dalam membangun pola produksi dan konsumsi pangan yang berkelanjutan.
“Selain menyasar warga secara umum, program ini juga diharapkan menyasar generasi muda agar memiliki peran strategis dalam mewujudkan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Bisa diterapkan di lahan sempit
Corie menjelaskan, hidroponik merupakan metode pertanian inovatif yang dapat diterapkan untuk mendukung terwujudnya kampung sehat sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
Teknologi tersebut memungkinkan masyarakat menanam berbagai jenis sayuran tanpa membutuhkan lahan pertanian yang luas. Selain itu, penggunaan air dan pestisida dapat ditekan melalui sistem budidaya yang terkontrol.
“Dengan menggunakan teknologi ini, para petani di desa atau kampung dapat menanam sayuran dan buah-buahan tanpa perlu lahan yang luas, serta meminimalkan penggunaan air dan pestisida,” kata Corie.
Menurut dia, ketersediaan pangan segar dan bergizi dari hasil budidaya sendiri dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat.
Hidroponik juga dinilai dapat mendukung ketahanan iklim melalui praktik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Melalui pemberdayaan hidroponik, desa-desa dapat menjadi lebih mandiri, sehat, dan siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan,” tuturnya.
Manfaatkan lahan sempit
Dalam pelatihan tersebut, Tim 11 TEP menghadirkan Malahayati, S.Tr.P., penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Prafi.
Malahayati menjelaskan bahwa sistem hidroponik dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan. Budidaya tanaman dapat dilakukan tanpa harus membuka atau memperluas lahan tanah.
“Tanaman yang ditanam tumbuh dengan nutrisi terkontrol dan tidak bergantung pada cuaca,” jelas Malahayati.
Corie mengatakan, penerapan hidroponik di Kampung Sumber Boga diharapkan dapat memperkuat kemandirian pangan keluarga dan masyarakat.
Dengan memproduksi sayuran secara mandiri, warga tidak hanya mendapatkan sumber pangan segar, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian.
Antusiasme warga selama mengikuti pelatihan juga menjadi modal penting bagi keberlanjutan program tersebut.
Tim 11 TEP berencana melakukan pendampingan mulai dari proses penanaman, perawatan hingga masa panen.
“Melalui kegiatan ini, kami mendorong praktik produksi pangan yang efisien melalui teknologi hidroponik, serta mengedukasi masyarakat mengenai konsumsi pangan sehat dan ramah lingkungan,” kata Corie.
Selain peningkatan kapasitas masyarakat, optimalisasi pemanfaatan lahan dan sumber daya air secara berkelanjutan menjadi perhatian dalam program tersebut.
Corie menegaskan, keberlanjutan program hidroponik perlu diikuti dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat agar pertanian berkelanjutan tidak hanya menjadi kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kemandirian kampung.
“Keberlanjutan program harus didukung dengan pemberdayaan ekonomi kampung berbasis pertanian berkelanjutan,” pungkasnya
(jurnalis : Dhy)
