FAKFAK,PinFunPapua.com – Ketua Panitia Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua, Dr. H. Wahidin Puarada, menegaskan bahwa peringatan bersejarah tersebut bukan hanya milik umat Islam, melainkan milik seluruh masyarakat Kabupaten Fakfak yang hidup dalam semangat persaudaraan Satu Tungku Tiga Batu.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga, mulai dari Karas, Pulau Tiga hingga Wamosan Tomage, untuk bersama-sama menyukseskan rangkaian kegiatan yang akan dipusatkan di Kabupaten Fakfak.
“Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua adalah kegiatan kita bersama. Saya mengimbau seluruh masyarakat Fakfak untuk hadir dan menjadi bagian dari sejarah ini,” tegas Wahidin Puarada kepada PinFunPapua.com, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, sejarah masuknya Agama Islam di Tanah Papua tidak dapat dipisahkan dari Kabupaten Fakfak. Berdasarkan hasil penelitian yang menjadi rujukan panitia, Agama Islam pertama kali masuk melalui Pulau Gar di Kabupaten Fakfak. Karena itu, peringatan tersebut menjadi warisan sejarah yang patut dijaga bersama oleh seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan agama.
Ia menekankan bahwa semangat yang ingin ditampilkan dalam peringatan tersebut adalah wajah asli Fakfak sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah Satu Tungku Tiga Batu, di mana umat Islam, Protestan, dan Katolik hidup berdampingan dalam harmoni dan saling menghormati.
“Yang dilakukan oleh para leluhur telah membuktikan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan untuk bersatu. Karena itu, kegiatan ini bukan hanya dihadiri umat Islam, tetapi seluruh masyarakat Fakfak,” ujarnya.
Untuk memastikan tingginya partisipasi masyarakat, panitia melakukan sosialisasi secara masif melalui struktur pemerintahan mulai dari tingkat RT, RW hingga distrik. Selain itu, Wahidin mengaku secara langsung mendatangi sejumlah pimpinan gereja, di antaranya Sinode GPI, Persekutuan GKI, dan Dewan Paroki guna menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, respons yang diterima sangat positif. Bahkan sejumlah pimpinan gereja menyatakan siap mengajak jemaat untuk ikut menyukseskan peringatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai persaudaraan yang telah diwariskan para pendahulu di Fakfak.
Panitia pun menargetkan kehadiran puluhan ribu masyarakat pada acara puncak. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melibatkan 233 peserta lomba, yang jika dihitung bersama pendamping diperkirakan menghadirkan hampir 4.000 orang di lokasi kegiatan.
Wahidin mengatakan, keterlibatan anak-anak sejak usia dini bukan sekadar mengikuti perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun mental dan rasa percaya diri mereka.
“Kami ingin anak-anak sejak kecil merasakan berdiri di hadapan para pemimpin daerah dan tamu-tamu penting. Dari situ mental mereka dibentuk untuk menjadi generasi yang percaya diri dan siap menghadapi masa depan,” jelasnya.
Selain berbagai perlombaan Islami, panitia juga menghadirkan Qori dan Qoriah lokal Fakfak Dan Juga Qori dan Qoriah internasional yang akan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan shalawat pada rangkaian kegiatan mulai 5 hingga malam puncak. Masyarakat juga akan disuguhkan berbagai penampilan seni religi serta hadiah menarik, termasuk 10 paket umrah gratis bagi peserta yang beruntung sesuai ketentuan panitia.
Di akhir penyampaiannya, Wahidin kembali mengajak seluruh masyarakat Fakfak untuk tidak melewatkan momentum bersejarah tersebut.
“Datanglah bersama keluarga. Mari kita tunjukkan kepada Indonesia bahwa Fakfak tetap menjadi rumah persaudaraan, tempat keberagaman dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
“Sejarah hanya akan dikenang oleh mereka yang hadir menjaganya. Persaudaraan tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari kesediaan untuk saling menghormati dan berjalan bersama dalam keberagaman.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
