UNURUMGUAY, PinFunPapua.com – Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) kembali melaksanakan Lokakarya II bagi komunitas akar rumput di Kampung Unurumguay, Distrik Unurumguay, Kabupaten Jayapura. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan tindak lanjut dari Lokakarya I yang telah dilaksanakan pada Februari 2026 sebagai bagian dari proses pendampingan masyarakat menuju kemandirian.
Lokakarya II bertujuan untuk melihat sejauh mana perkembangan rencana aksi yang telah disusun oleh komunitas pada lokakarya sebelumnya. Selain melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah yang telah dijalankan, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk memperkuat kesadaran kritis, membangun rasa percaya diri, serta menumbuhkan semangat bekerja sama dalam mewujudkan perubahan di lingkungan mereka.
Berbeda dengan pelaksanaan lokakarya di Kampung Wansra yang didominasi oleh kaum perempuan, peserta di Kampung Unurumguay mayoritas merupakan kaum bapak. Kondisi tersebut memberikan dinamika tersendiri dalam proses pembelajaran karena para peserta aktif terlibat dalam setiap sesi diskusi, refleksi, maupun permainan yang dirancang untuk membangun kebersamaan.
Sejak hari pertama, seluruh rangkaian kegiatan diawali dengan sentring dan refleksi sebagai sarana membangun suasana belajar yang nyaman sekaligus mengajak peserta menghayati pengalaman hidup mereka. Setelah itu, peserta bersama-sama menyusun aturan main yang akan dipatuhi selama lokakarya berlangsung sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan proses belajar yang tertib, terbuka, dan saling menghargai.
Pada hari pertama pula, peserta diajak membuat pohon individu dan mengikuti alat Holland untuk mengenali potensi, minat, serta karakter diri. Melalui proses tersebut, peserta diajak merefleksikan hubungan antara dirinya dengan keluarga, kampung, hingga distrik tempat mereka hidup.
Pendekatan ini bertujuan membangun kesadaran bahwa perubahan sosial selalu berawal dari perubahan pada diri sendiri.
Memasuki hari kedua, kegiatan kembali diawali dengan sentring dan refleksi. Selanjutnya, peserta menyusun roda kebutuhan dasar sebagai alat untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan pokok yang masih menjadi tantangan di dalam komunitas. Setelah itu, peserta membuat peta dunia sebagai media untuk memperluas cara pandang mereka mengenai posisi kampung dalam kehidupan yang lebih luas, sekaligus memahami bahwa setiap komunitas memiliki potensi untuk berkembang apabila mampu mengelola sumber daya yang dimiliki.

Pada hari ketiga, kegiatan kembali diawali dengan sentring dan refleksi diri. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami makna tanah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Papua. Tanah dipandang bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai identitas, warisan leluhur, serta ruang untuk membangun masa depan generasi berikutnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta mengikuti permainan lidi yang bertujuan menggambarkan pentingnya kebersamaan, kerja sama, dan saling mendukung dalam membangun komunitas. Melalui permainan sederhana tersebut, peserta belajar bahwa kekuatan sebuah kelompok terletak pada persatuan, sebagaimana seikat lidi yang akan lebih kuat dibandingkan sebatang lidi yang berdiri sendiri.
Salah seorang peserta, David Goakan, mengaku memperoleh banyak pelajaran selama mengikuti Lokakarya II yang difasilitasi YP3SP. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan dorongan kuat untuk berubah dan membangun kehidupan yang lebih mandiri tanpa terus bergantung pada bantuan dari pihak lain.
“Selama mengikuti Lokakarya II yang dilakukan YP3SP, saya mendapatkan dorongan untuk berubah dan membangun diri agar terlepas dari ketergantungan terhadap bantuan yang selama ini diberikan. Kami mulai percaya bahwa kami juga mampu mengembangkan potensi yang kami miliki,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Eliy Diher. Ia mengaku merasa senang mengikuti seluruh proses pembelajaran selama beberapa hari terakhir. Menurutnya, wawasan yang diperoleh melalui lokakarya membuka cara pandangnya untuk membangun kekuatan ekonomi masyarakat melalui pembentukan badan usaha milik komunitas.
“Nantinya kami akan membentuk badan usaha milik komunitas sebagai wadah untuk bekerja sama dalam menindaklanjuti rencana aksi yang telah kami susun. Saya bangga kepada YP3SP yang telah membuka wawasan kami. Dari yang sebelumnya tidak tahu, kini kami menjadi lebih mengerti dan memiliki keyakinan untuk bergerak bersama,” katanya.
David dan Eliy berharap pendampingan yang dilakukan YP3SP dapat terus berlanjut sehingga masyarakat Kampung Unurumguay semakin mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri. Keduanya meyakini bahwa proses belajar yang telah mereka jalani akan menjadi bekal untuk menghasilkan perubahan nyata bagi komunitas.
“Kami berharap dapat terus berjalan bersama YP3SP. Kami ingin bertumbuh seperti pohon individu yang kami pelajari selama lokakarya. Setelah belajar bersama, kami harus berhasil dan membawa perubahan bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat,” ungkap mereka.
Melalui Lokakarya II ini, YP3SP kembali menegaskan komitmennya dalam mendampingi komunitas akar rumput agar mampu mengenali potensi diri, membangun kesadaran kritis, serta melepaskan diri dari pola ketergantungan. Dengan pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan, YP3SP berharap setiap komunitas dapat mewujudkan rencana aksi yang telah disusun dan secara bertahap membangun kehidupan yang lebih mandiri, berdaya, dan berkelanjutan. (red)
