Oleh: Lutfi Rumaday, S.Ag., M.Pd.I., MM.Sip
Dosen STAI Al-Mahdi Fakfak
FAKFAK,PinFunPapua.com — Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua yang puncaknya dipusatkan di Kabupaten Fakfak pada 8 Agustus 2026 tidak seharusnya berhenti sebagai perayaan seremonial. Lebih dari itu, momentum ini adalah kesempatan untuk membuka kembali lembaran sejarah, membaca kembali perjalanan peradaban Islam di Papua, sekaligus meneguhkan pesan persatuan, toleransi, dan kerukunan yang telah tumbuh selama berabad-abad.
Fakfak bukan sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah peringatan. Daerah ini memiliki posisi penting dalam narasi sejarah Islam di Tanah Papua. Di tengah keberagaman agama, suku, adat, dan budaya, masyarakat Fakfak mewarisi satu pesan besar: perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk terpecah.
Justru dari Fakfak, kita belajar bahwa agama dapat tumbuh berdampingan dengan adat dan budaya tanpa harus saling meniadakan.
Sejarah yang Tidak Boleh Putus
Masuknya Islam di Tanah Papua diyakini bermula dari wilayah Fakfak sekitar tahun 1360 M atau 761 Hijriah. Proses penyebarannya berlangsung melalui jalur perdagangan, hubungan kekeluargaan, perkawinan, pendidikan, serta dakwah.
Sejarah tersebut tidak lahir dalam ruang kosong. Jejaknya dapat ditelusuri melalui berbagai artefak sejarah, masjid-masjid tua, manuskrip keagamaan, tradisi masyarakat pesisir, serta hubungan Kesultanan Tidore dengan sejumlah kerajaan dan wilayah kekuasaan di Papua, termasuk Fakfak, Raja Ampat, Rumbati, Fatagar, dan Atiati.
Dalam Seminar Nasional di Jakarta Islamic Center pada 11 Januari 2025, salah satu kesepakatan yang mengemuka adalah penetapan 8 Agustus 1360 M atau 24 Ramadhan 761 H sebagai momentum yang diperingati sebagai awal masuknya Islam di Papua.
Namun, sejarah tidak cukup hanya ditulis dalam buku dan diperingati setiap tahun. Sejarah harus diwariskan melalui pendidikan agar generasi muda Papua tidak menjadi asing terhadap akar sejarah daerahnya sendiri.
Sebab, bangsa yang kehilangan sejarah akan mudah kehilangan arah.
Islam dan Wajah Papua yang Damai
Salah satu kekuatan penting dalam perjalanan Islam di Papua adalah kemampuannya hidup berdampingan dengan masyarakat dan kebudayaan setempat.
Rangkaian kegiatan dalam peringatan 666 tahun, mulai dari Tilawah Al-Qur’an, Barzanji, Shalawat, Rebana Sawat, Tifa Hadrat hingga Samrah, memperlihatkan bahwa Islam di Fakfak tidak tumbuh dengan memutus hubungan dengan kebudayaan lokal.
Sebaliknya, agama dan budaya menemukan ruang perjumpaan.
Di sinilah wajah Islam di Papua perlu terus diperkenalkan: Islam yang menyejukkan, Islam yang menghormati manusia, dan Islam yang mampu berdialog dengan kebudayaan tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Islam hadir sebagai pelita yang menerangi, bukan api yang membakar.
Islam menjadi air yang menghidupi, bukan gelombang yang menghanyutkan.
Satu Tungku Tiga Batu: Bukan Sekadar Slogan
Fakfak memiliki warisan sosial yang sangat berharga melalui filosofi Satu Tungku Tiga Batu.
Filosofi ini menggambarkan kehidupan masyarakat yang berbeda agama tetapi tetap berada dalam satu ikatan persaudaraan. Ia bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, adat, pemerintahan, pendidikan maupun kehidupan sosial.
Dalam konteks Indonesia yang semakin kompleks, filosofi Satu Tungku Tiga Batu justru menjadi kekayaan sosial yang patut dijaga.
Fakfak memiliki modal sosial untuk menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan teori yang hanya dibicarakan di ruang seminar. Moderasi beragama dapat hidup dalam keluarga, kampung, sekolah, pemerintahan dan ruang-ruang kehidupan masyarakat.
Karena itu, peringatan 666 tahun harus menjadi momentum untuk memperkuat praktik tersebut, bukan sekadar mengulanginya sebagai slogan.
Tiga Fase Panjang Perjalanan Islam di Papua
Perjalanan Islam di Papua dapat dilihat dalam beberapa fase penting.
Pertama, fase pedagang dan kesultanan.
Pada sekitar abad XV hingga XVIII, perkembangan Islam berlangsung melalui aktivitas perdagangan, pelayaran, perkawinan, serta hubungan politik dan sosial antara Kesultanan Tidore dengan kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir Papua.
Kedua, fase mubalig dan guru.
Memasuki awal abad XX, perkembangan Islam semakin luas melalui peran para mubalig dan guru agama, termasuk dari Sulawesi dan Hadramaut. Pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat kehidupan keislaman melalui surau, madrasah, pesantren dan berbagai lembaga pendidikan.
Ketiga, fase kelembagaan dan perguruan tinggi.
Sejak pertengahan abad XX hingga sekarang, dakwah Islam berkembang melalui organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan dan perguruan tinggi Islam.
Berbagai perguruan tinggi Islam di Papua memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia, mengembangkan kajian keislaman, membangun tradisi akademik dan memperkuat moderasi beragama.
Di sinilah pendidikan menjadi jembatan penting antara sejarah, agama dan masa depan Papua.
666 Tahun: Apa yang Harus Kita Wariskan?
Angka 666 tahun akan kehilangan makna apabila hanya menjadi angka yang dirayakan.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang diwariskan setelah perayaan berakhir.
Apakah generasi muda Papua memahami sejarah masuknya Islam di tanah mereka?
Apakah nilai persaudaraan antarumat beragama semakin kuat?
Apakah filosofi Satu Tungku Tiga Batu semakin nyata dalam kehidupan masyarakat?
Dan apakah sejarah panjang Islam di Papua mampu menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang damai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada kemeriahan sebuah seremoni.
Sebab, peringatan sejarah pada akhirnya bukan tentang seberapa besar acara yang diselenggarakan, tetapi seberapa besar nilai yang mampu ditinggalkan.
Islam 666 Tahun: Sejarah Peradaban, Bukan Sejarah Konflik
Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua harus dibaca sebagai sejarah peradaban.
Islam tumbuh melalui interaksi manusia, perdagangan, pendidikan, hubungan keluarga, kebudayaan dan dakwah. Karena itu, sejarah Islam di Papua tidak selayaknya hanya dilihat dari sisi masuknya sebuah agama, tetapi juga dari proses panjang bagaimana agama tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua.
Fakfak memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga narasi tersebut.
Bukan untuk membangun klaim superioritas terhadap agama lain, tetapi untuk menunjukkan bahwa sejarah Islam di Papua dapat menjadi sumber energi positif bagi persatuan.
Islam datang paling akhir dalam perjalanan keberagaman masyarakat Papua, tetapi kehadirannya bukan untuk menghapus yang telah ada. Ia menjadi bagian dari mozaik besar kehidupan Papua.
Inilah pesan penting yang harus dibawa dari Fakfak: agama boleh berbeda, keyakinan boleh beragam, tetapi persaudaraan tidak boleh hilang.
Menjaga Sejarah, Merawat Persaudaraan
Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua akhirnya bukan hanya milik umat Islam. Ia merupakan bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Papua yang harus dirawat bersama.
Fakfak sebagai daerah yang diyakini menjadi pintu masuk Islam di Tanah Papua memiliki tanggung jawab untuk memastikan warisan sejarah tersebut tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Warisan itu harus diteruskan melalui pendidikan, penelitian, kebudayaan, literasi sejarah, dialog lintas agama dan penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Sebab sejarah yang hanya dirayakan akan menjadi kenangan. Tetapi sejarah yang dipahami dan diwariskan akan menjadi kekuatan.
666 tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Ia adalah perjalanan nilai. Dan tugas generasi hari ini bukan hanya mengenang bagaimana Islam datang ke Tanah Papua, tetapi memastikan bahwa kedamaian, persaudaraan, toleransi dan penghormatan terhadap budaya yang menyertainya tetap hidup di tanah ini.
Karena sejarah yang besar bukanlah sejarah yang paling sering diceritakan, melainkan sejarah yang mampu melahirkan masa depan yang lebih baik.
(Jurnalis : Risman Bauw).
