FAKFAK,PinFunPapua.com – Peringatan Hari Santri Nasional ke-11 di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Di tengah kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, serta ancaman krisis air bersih, doa kebangsaan menjadi ikhtiar spiritual sekaligus seruan moral untuk memperkuat persatuan dan kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh keluarga besar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Fakfak tersebut berlangsung di Masjid Al-Munawwarah, Fakfak, pada Kamis (22/10/2026), pukul 12.00 WIT.
Turut hadir Ketua DPRK Fakfak, Amir Rumbouw, S.T., Dandim 1803/Fakfak, Letkol Inf. Wahlin Rahman, S.Pd., Kapolres Fakfak, AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H., mantan Bupati Fakfak, Drs. H. Wahidin Puarada, M.Si., Ketua MUI Fakfak, Mohammadon Daeng Husen., Imam Masjid Al-Munawwarah., tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas”, peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan peran santri dan pesantren dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, memperkokoh nasionalisme, serta merawat kerukunan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pelaksanaan doa kebangsaan dan istigasah kubra menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, kedamaian, serta turunnya hujan bagi Kabupaten Fakfak dan wilayah Indonesia yang terdampak kekeringan.
Kemarau berkepanjangan yang memicu kebakaran hutan dan lahan telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas lingkungan dan kenyamanan masyarakat. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah serta ancaman keterbatasan air bersih menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan perhatian serius dan langkah nyata dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, doa bukanlah pengganti tindakan. Doa menjadi penguat batin, sedangkan ikhtiar nyata melalui pencegahan kebakaran, perlindungan kesehatan, pengelolaan sumber air, dan kepedulian sosial merupakan tanggung jawab bersama.
Momentum Hari Santri pun menghadirkan pesan penting: kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan kemajuan ekonomi, tetapi juga dari keteguhan iman, solidaritas sosial, serta kemampuan masyarakat menghadapi kesulitan secara bersama-sama.
Dalam sambutannya, Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, menegaskan pentingnya menjadikan Hari Santri sebagai momentum untuk menghormati perjuangan para kiai, ulama, dan santri yang telah berkorban demi bangsa dan negara.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menghidupkan semangat perjuangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadikan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan sebagai landasan dalam membangun daerah.

Bupati juga mengajak masyarakat memanjatkan doa agar hujan segera turun di Kabupaten Fakfak sehingga kondisi kemarau yang sedang dihadapi dapat segera berlalu dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal.
“Doa memohon agar diturunkan hujan di negeri kita, Fakfak tercinta. Saya mengajak kita semua agar terus berikhtiar atas kondisi yang terjadi saat ini. Semoga cobaan ini cepat berlalu agar kita semua kembali melaksanakan aktivitas masing-masing sebagaimana biasa,” ujar Samaun Dahlan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa menghadapi situasi sulit membutuhkan keteguhan hati, kebersamaan, dan usaha yang berkelanjutan. Masyarakat tidak cukup hanya berharap keadaan segera membaik, tetapi juga perlu menjaga lingkungan, menghindari tindakan yang memicu kebakaran, serta membantu warga yang terdampak.
Secara historis, Hari Santri Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 dan pertama kali diperingati pada 22 Oktober 2015. Pada 22 Oktober 2026, peringatan ini memasuki tahun ke-11 sejak penetapannya.
Peran santri dalam perjalanan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama dan pesantren dalam membangun kesadaran keagamaan, menumbuhkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme, serta mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, Hari Santri bukan semata-mata peringatan atas sejarah perjuangan masa lalu. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi panggilan untuk meneruskan nilai perjuangan melalui pendidikan, pengabdian, toleransi, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.
Di Fakfak, doa kebangsaan menjadi pengingat bahwa persatuan harus terus dirawat, terlebih ketika masyarakat menghadapi tantangan lingkungan dan kebutuhan dasar. Pemerintah, tokoh agama, pemuda, dan masyarakat memiliki tanggung jawab masing-masing untuk memastikan bahwa semangat kebersamaan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Sebab, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi cobaan, melainkan bangsa yang mampu berdiri bersama ketika cobaan datang.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Fakfak menyampaikan pesan yang lebih luas daripada sekadar kegiatan keagamaan. Di tengah ancaman kabut asap dan krisis air bersih, masyarakat diingatkan bahwa menjaga alam, melindungi sesama, dan memelihara persatuan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kebangsaan.
Doa memohon hujan adalah wujud pengharapan. Namun, harapan itu perlu berjalan beriringan dengan langkah konkret untuk menjaga hutan, mencegah kebakaran, memastikan ketersediaan air bersih, dan memperhatikan kesehatan masyarakat.
Melalui momentum Hari Santri Nasional, semangat “Santri Menguatkan Negeri, Menuju Indonesia Emas” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan. Semangat tersebut perlu diterjemahkan menjadi pengabdian, kepedulian, dan kerja nyata demi terwujudnya Fakfak yang aman, damai, sehat, dan sejahtera, serta Indonesia yang semakin kuat dan bermartabat.
(Jurnalis : Risman Bauw).
