MANOKWARI,PinFunPapua.com – Pimpinan Wilayah Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PW PRIMA DMI) Papua Barat terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas dakwah Islam dan memperkuat pembinaan rohani bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas III Manokwari dengan menghadirkan program pengajian rutin bagi warga binaan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan spiritual, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta menumbuhkan harapan bagi perempuan yang sedang menjalani masa pembinaan. Melalui pendekatan keagamaan, warga binaan diharapkan dapat menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Kehadiran PW PRIMA DMI Papua Barat di lingkungan lapas juga memperlihatkan bahwa dakwah tidak terbatas pada aktivitas di masjid atau majelis taklim. Dakwah dapat hadir di berbagai ruang kehidupan, termasuk di lembaga pemasyarakatan, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dan upaya mendampingi mereka yang membutuhkan penguatan moral serta spiritual.
Ketua Umum PW PRIMA DMI Papua Barat, Fajrin Atta Maruapey, menyampaikan apresiasi kepada Kepala Lapas Wanita Kelas III Manokwari, Farida Aronggear, beserta seluruh jajaran yang telah memberikan izin, dukungan, dan fasilitas sehingga kegiatan pengajian tersebut dapat terlaksana.
Menurut Fajrin, dukungan dari pihak lapas menjadi langkah penting dalam membangun sinergi antara organisasi kepemudaan Islam dan lembaga pemasyarakatan, khususnya dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan bagi warga binaan.
Ia menilai, pembinaan di dalam lapas tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan aturan dan proses menjalani masa hukuman, tetapi juga perlu didukung dengan penguatan mental, pembentukan karakter, dan pendampingan rohani. Dengan demikian, warga binaan memiliki kesempatan untuk membangun kesadaran diri serta menyiapkan diri ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.
“Bagi PRIMA DMI, dakwah tidak hanya hadir di mimbar masjid. Dakwah harus mampu menyentuh hati umat di mana pun berada, termasuk di Lapas Wanita,” ujar Fajrin dalam sambutannya.
Dalam kesempatan tersebut, Fajrin juga menyampaikan pesan khusus kepada para perempuan warga binaan agar tetap memiliki semangat dan tidak kehilangan harapan dalam menjalani proses pembinaan.
Ia menegaskan bahwa kegiatan pengajian bukanlah ruang untuk menghakimi masa lalu seseorang. Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk saling menguatkan, belajar memahami nilai-nilai agama, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, serta membangun tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Kesalahan pada masa lalu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup seluruh kesempatan memperbaiki diri. Selama seseorang memiliki kemauan untuk berubah, kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik tetap terbuka.
“Saya berdiri di sini bukan untuk menghakimi. Saya berdiri di sini sebagai saudara kalian,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa warga binaan tetap memiliki martabat sebagai manusia yang berhak memperoleh dukungan moral, bimbingan keagamaan, dan kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Fajrin mengingatkan bahwa proses perubahan tidak selalu berlangsung mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan hati, keikhlasan, serta kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia berharap para warga binaan tidak menjadikan kondisi yang sedang dihadapi sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, masa pembinaan dapat dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama, mengevaluasi perjalanan hidup, dan menata kembali cita-cita yang ingin diwujudkan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Masa depan masih sangat panjang. Jangan pernah berkecil hati. Jadikan proses yang dijalani hari ini sebagai bagian dari perjalanan menuju pribadi yang lebih baik,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa pintu tobat dan kesempatan untuk berubah senantiasa terbuka bagi setiap manusia yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi sumber kekuatan bagi warga binaan untuk menjalani hari-hari mereka dengan lebih optimistis.
Sementara itu, Kepala Lapas Wanita Kelas III Manokwari, Farida Aronggear, menyampaikan apresiasi atas kunjungan PW PRIMA DMI Papua Barat yang memberikan siraman rohani kepada para warga binaan melalui program pengajian rutin.
Menurut Farida, kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini merupakan hal positif karena dapat mendorong warga binaan untuk lebih memahami nilai-nilai kebaikan, memperbaiki akhlak, dan membangun sikap yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, keterlibatan organisasi keagamaan dalam mendukung pembinaan di lingkungan lapas dapat menjadi bentuk sinergi yang bermanfaat. Kehadiran pihak eksternal yang membawa pesan moral dan spiritual diharapkan mampu memberikan suasana pembinaan yang lebih bermakna bagi warga binaan.
“Kegiatan ini sangat positif sekali. Nilai-nilai kebaikan yang disampaikan diharapkan dapat mendorong warga binaan untuk terus melakukan kebaikan dan membangun akhlak yang lebih baik,” ujar Farida.
Apresiasi tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi PW PRIMA DMI Papua Barat untuk terus mengembangkan program dakwah yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang membutuhkan pendampingan khusus selama menjalani proses pembinaan.
Bagi warga binaan, pengajian tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat keyakinan, menumbuhkan ketenangan batin, dan membangun motivasi dalam menjalani kehidupan.
Dorong Program Berkelanjutan dan Pembinaan Karakter
PW PRIMA DMI Papua Barat berharap kegiatan pengajian di Lapas Wanita Kelas III Manokwari dapat terus dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. Organisasi tersebut juga berharap dapat menjadi mitra bagi pihak lapas dalam menghadirkan kegiatan pembinaan keagamaan yang konsisten dan sesuai dengan kebutuhan warga binaan.
Fajrin menekankan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari terlaksananya sebuah kegiatan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai agama yang disampaikan melalui pengajian diharapkan dapat menjadi pedoman bagi warga binaan dalam membangun sikap, perilaku, dan hubungan sosial yang lebih baik.
Melalui kegiatan tersebut, PRIMA DMI ingin mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa memperbaiki diri merupakan proses yang membutuhkan komitmen dan dukungan dari berbagai pihak. Keluarga, lingkungan sosial, organisasi keagamaan, serta lembaga pemasyarakatan memiliki peran penting dalam membantu seseorang mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah masyarakat.
Pembinaan rohani juga diharapkan dapat memperkuat nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter yang lebih baik, sekaligus menjadi bekal ketika warga binaan kembali menjalani kehidupan bermasyarakat.
PW PRIMA DMI Papua Barat memandang bahwa dakwah harus mampu memberikan manfaat nyata, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit. Pendekatan yang mengedepankan persaudaraan, kasih sayang, dan bimbingan diharapkan dapat membantu warga binaan menemukan kembali semangat untuk menjalani kehidupan.
Sinergi dengan Lapas Wanita Kelas III Manokwari di bawah kepemimpinan Farida Aronggear diharapkan terus berkembang, sehingga program pengajian rutin dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat pembinaan mental dan spiritual.
Pada akhirnya, kegiatan ini membawa pesan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk belajar, bertobat, dan memperbaiki diri. Masa pembinaan bukan hanya menjadi waktu untuk menjalani konsekuensi atas perbuatan masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk mempersiapkan langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik.
Melalui pengajian rutin tersebut, PW PRIMA DMI Papua Barat berharap nilai-nilai Islam dapat menjadi sumber kekuatan bagi warga binaan untuk menjaga harapan, memperbaiki akhlak, serta menata masa depan dengan keyakinan dan tanggung jawab.
Dakwah, dalam konteks ini, bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan, melainkan juga menghadirkan kepedulian dan persaudaraan. Sebab, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah dan kembali membangun kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat.
(Jurnalis : Dhy).
(Editor : Risman Bauw).
