Sekretaris Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB), Ferdinand Pihiwi, ( FOTO : Aufrida Marisan )
MANOKWARI, PinFunPapua.com – Sekretaris Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB), Ferdinand Pihiwi, menyoroti masalah disiplin pegawai honorer di lingkungan MRPB. Dari total 57 pegawai honorer, hanya sekitar 20 orang yang aktif bekerja, sementara sisanya hanya muncul saat menerima gaji.
Ferdinand mengungkapkan hal ini sebagai respons terhadap pernyataan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohammad Lakotani, yang menyoroti praktik tidak etis di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai honorer. Beberapa di antaranya hanya melakukan absensi tanpa benar-benar bekerja. Wakil Gubernur menegaskan bahwa tindakan tersebut termasuk dalam kategori korupsi waktu dan harus segera dihentikan.
Menurut Ferdinand, selain 57 pegawai honorer, MRPB juga memiliki 6 petugas keamanan (security), 6 petugas kebersihan (cleaning service), serta 47 ASN. Namun, masalah terbesar saat ini adalah rendahnya disiplin pegawai honorer dalam menjalankan tugasnya.
“Banyak dari pegawai honorer yang hanya aktif saat menerima gaji. Setelah itu, mereka menghilang dan tidak lagi terlihat di kantor,” ungkapnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Ferdinand telah menerapkan kebijakan baru terkait pembayaran gaji pegawai honorer. Jika sebelumnya gaji ditransfer ke rekening pegawai, kini pembayaran dilakukan secara langsung di kantor.
“Mulai bulan ini, gaji honorer akan dibayar tunai di kantor. Hanya mereka yang hadir dan bekerja yang akan menerima gaji. Bulan depan, pembayaran gaji akan dihitung berdasarkan jumlah jam kerja yang mereka penuhi,” tegasnya saat ditemui wartawan diruang kerjanya, Senin (17/3/2025).
Meski aturan tersebut telah diberlakukan, Ferdinand mengaku masih menemui kendala. Banyak pegawai honorer yang hanya hadir untuk absen lalu pulang tanpa benar-benar bekerja.
“Saya sudah berulang kali mengingatkan bahwa mereka harus masuk kantor dan bekerja agar layak menerima gaji. Tidak bisa hanya tinggal di rumah lalu menerima gaji, itu tindakan yang salah dan berdosa,” ujarnya dengan nada tegas.
Berbeda dengan pegawai honorer, Ferdinand menyebutkan bahwa tingkat kehadiran ASN di MRPB tergolong cukup baik, dengan 70% pegawai ASN aktif bekerja setiap hari.
“Secara umum, kinerja pegawai ASN sudah cukup baik. Kami juga telah beberapa kali mengadakan rapat untuk meningkatkan pelayanan kepada pimpinan dan anggota MRPB,” katanya.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa MRPB masih menghadapi kendala anggaran yang cukup besar. Hal ini berpengaruh pada keterbatasan dalam memberikan pelayanan yang optimal.
“Kami menyadari bahwa ada keterbatasan anggaran, tetapi kami tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik dengan sumber daya yang tersedia,” tambahnya.
Ferdinand menegaskan bahwa pihaknya akan tetap menjalankan tugas sesuai dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) selama jam kerja. Namun, ia meminta pengertian dari berbagai pihak jika terdapat kebutuhan yang harus ditangani di luar jam kerja.
“Kami akan terus berupaya mendampingi pimpinan dan anggota MRPB sesuai dengan tugas dan kewajiban kami. Namun, jika ada kebutuhan di luar jam kantor, kami harap ada pengertian karena kami juga memiliki keterbatasan,” pungkasnya. ( red )
