Direktur Rumah Sakit provinsi Papua Barat, dr Arnoldus Tiniap (FOTO : Redaksi)
MANOKWARI, PinFunPapua.com — Direktur Rumah Sakit Provinsi Papua Barat, dr. Arnoldus Tiniap, menyatakan bahwa pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) kini berjalan lebih optimal sejak Pemerintah Provinsi Papua Barat meluncurkan sistem pengelolaan limbah melalui insinerator beberapa minggu lalu.
Menurut dr. Arnoldus, Rumah Sakit Provinsi telah mulai mendistribusikan limbah medis ke sistem pengelolaan baru tersebut secara rutin. “Sebelum sistem ini diresmikan, kami memang sudah mulai mengirimkan limbah medis ke lokasi tersebut. Biasanya, pengambilan limbah dilakukan satu hingga dua minggu sekali,” ujarnya saat ditemui di Manokwari, Jumat (16/5/2025).
Limbah medis yang dikirim, jelasnya, mencakup berbagai jenis seperti botol infus, masker bekas, dan perlengkapan medis lain yang sudah tidak digunakan. Seluruh limbah tersebut ditimbang terlebih dahulu sebelum dikirim ke fasilitas pengelolaan.
Ia menambahkan, volume limbah medis yang diangkut mencapai satu ton, sebelum adanya insinerator di Papua Barat, rumah sakit harus mengirimkan limbah B3 ke luar daerah. “Dulu, kita mengirimkan limbah ke Tangerang. Prosesnya cukup panjang dan sangat tergantung pada ketersediaan alat angkut dari pihak pengelola di luar Papua,” jelasnya.
Dengan adanya fasilitas baru ini, proses pengelolaan limbah menjadi lebih efisien, hemat waktu, dan mendukung pengurangan risiko pencemaran lingkungan. (red)
