Wakil Bupati Kabupaten Fakfak sekaligus selaku Tokoh lintas agama Fakfak, Donatus Nimbitkendik, Menyampaikan Apresiasi Atas Semangat Semua Elemen Masyarakat Mendukung Susksesnya Perayaan HUT Ke-665 Masuknya Islam Di Tanah Papua. (FOTO : RISMAN BAUW)
FAKFAK, PinFunPapua.com — Kabupaten Fakfak menorehkan sejarah baru dalam perjalanan keagamaannya dengan menggelar peringatan 665 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua. Acara yang berlangsung pada Kamis, 7 Agustus 2025, ini dipusatkan di Pulau Was, Kampung Gar Tuare, Teluk Patipi—lokasi yang diyakini sebagai tempat pertama kali ajaran Islam disebarkan oleh Syekh Abdul Gafur pada 8 Agustus 1360 Masehi.
Perayaan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya ditetapkan secara resmi sebagai hari bersejarah keislaman di Papua. Keputusan masyarakat Teluk Patipi untuk menjadi tuan rumah peringatan juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah Islam di tanah mereka.
Wujud Persatuan Umat Beragama di Fakfak
Kegiatan ini tidak hanya sarat nilai historis dan spiritual, tetapi juga menjadi cermin nyata toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Kabupaten Fakfak. Tokoh lintas agama Fakfak, Donatus Nimbitkendik,akil Bupati mjjj menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut, meskipun dilaksanakan di lokasi yang memiliki keterbatasan akses dan fasilitas.
“Walaupun dengan keterbatasan transportasi dan fasilitas, niat kita adalah memastikan acara ini berjalan sukses, dan hari ini itu terbukti,” ujar Donatus dalam sambutannya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran para mantan Bupati dan Wakil Bupati Fakfak dalam perayaan tersebut, yang menurutnya menambah semangat dan makna kebersamaan dalam momentum bersejarah ini.
Donatus menekankan bahwa perayaan ini menjadi pelengkap dari peringatan keagamaan lain yang telah lebih dahulu diakui, seperti Hari Masuknya Injil di Tanah Papua yang diperingati setiap 5 Februari di Manokwari, serta perayaan masuknya agama Katolik di Fakfak tahun sebelumnya.
“Sekarang saatnya kita juga memberi ruang bagi sejarah besar masuknya Islam di Papua untuk dirayakan dan dikenang,” katanya.
Seruan Perdamaian dan Komitmen Membangun Daerah
Dalam kesempatan itu, Donatus menyerukan pentingnya menjaga kerukunan dan menyelesaikan persoalan sosial secara bijaksana, baik di tingkat kampung, raja, maupun distrik. Ia berharap agar semangat kebersamaan yang tercipta dalam perayaan ini terus dijaga demi kemajuan Kabupaten Fakfak secara keseluruhan.
“Saya bersyukur, karena hari ini semua umat—baik Islam, Kristen, maupun Katolik—ikut mendukung acara ini. Ini bukti bahwa kita bisa hidup berdampingan di atas tanah yang diberkati Tuhan ini,” tuturnya.
Penetapan Tanggal 8 Agustus sebagai Hari Masuknya Islam di Tanah Papua
Perjalanan menuju penetapan tanggal 8 Agustus sebagai Hari Masuknya Islam ke Tanah Papua merupakan hasil dari proses panjang, termasuk melalui seminar sejarah yang telah diselenggarakan tahun sebelumnya. Peringatan tahun ini menjadi perayaan perdana yang akan terus dikembangkan dan disempurnakan di masa mendatang.
“Meskipun masih ada kekurangan, kita akan terus memperbaiki agar peringatan ini semakin baik ke depan,” ujar Donatus. “Pelan-pelan kita akan membuka budaya yang bisa ditampilkan kepada publik agar Indonesia dan dunia tahu bahwa Islam sudah hadir di Papua sejak 665 tahun lalu.”
Ajakan Mendukung Pemerintah Daerah
Donatus juga mengajak seluruh masyarakat Fakfak untuk terus mendukung pemerintahan Bupati Samaun Dahlan dan dirinya selaku Wakil Bupati dalam menjalankan pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dan kesepahaman dalam menghadapi tantangan pembangunan.
“Kalau kita komitmen dan sepakat berjalan bersama, Fakfak akan maju. Kita tidak boleh lagi jalan di tempat,” tegasnya.
Simbol Toleransi dan Keberagaman
Perayaan 665 tahun masuknya Islam ke Tanah Papua di Teluk Patipi bukan hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga menjadi simbol kerukunan yang mengakar kuat di tengah masyarakat Fakfak. Dengan semangat “Satu Tungku Tiga Batu”, Fakfak kembali menunjukkan dirinya sebagai contoh nyata harmoni keberagaman antarumat beragama di Indonesia.
Perayaan ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang memperkuat identitas sejarah sekaligus membangun semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas Tanah Papua. (Risman)
