MANOKWARI, PinFunPapua.com – Tidak banyak yang mengetahui makna mendalam di balik angka 315 yang begitu lekat dengan sejarah pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat—yang kini dikenal sebagai Papua Barat. Angka tersebut bukan sekadar simbol, melainkan representasi dari perjuangan panjang dan penuh pengorbanan yang berpuncak di ruang sidang DPR RI, Jakarta, pada 17 September 2002.
Salah satu tokoh sentral di balik peristiwa bersejarah itu, Dr. Origenes Ijie, S.E., S.H., M.M., mengungkapkan bahwa perjalanan menuju pengesahan provinsi baru tersebut dimulai dari Manokwari. Saat itu, tim perjuangan dari Manokwari bergabung dengan delegasi asal Sorong, Fakfak, dan Kota Sorong, sebelum berangkat bersama ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi pemekaran wilayah di Senayan.
“Film dokumenter yang beredar saat ini memang menampilkan beberapa potongan peristiwa, tetapi tidak menggambarkan perjalanan kami secara utuh sejak dari Papua. Seharusnya ditampilkan bagaimana tim ini masuk ke Komisi II DPR RI, Menko Polhukam, Departemen Dalam Negeri, hingga ke Istana Negara,” ujar Ijie.
Sesampainya di Jakarta, tim Papua menghadapi ketegangan besar menjelang pembacaan pernyataan sikap di ruang sidang DPR RI. Namun situasi berhasil diredakan, dan pernyataan disampaikan secara bergiliran oleh perwakilan dari setiap daerah: Ali Kwaras (Fakfak), Obeth Ayok (Manokwari), Bram Ambrauw (Kabupaten Sorong), dan perwakilan dari Kota Sorong yang mendapat kesempatan membacakan langsung dari podium utama.
“Saya berdiri di podium dan menyampaikan pernyataan bahwa tim Papua yang hadir berjumlah 13 orang. Tapi ketika menyampaikan aspirasi rakyat Papua, hanya saya yang bicara. Maka saya katakan, 13 orang ini ibarat menutup mata, telinga, dan hati terhadap penderitaan masyarakat Papua,” tutur Ijie mengenang.
Ia menjelaskan, jumlah penduduk Papua saat itu mencapai sekitar 1,3 juta jiwa, sementara 315 orang hadir dalam ruang sidang DPR RI sebagai representasi rakyat dari berbagai wilayah. Dari sanalah muncul istilah 315, yang kemudian menjadi simbol perjuangan aspirasi rakyat Papua untuk membentuk provinsi baru.
“Sebenarnya jumlah kami yang berjuang saat itu hanya 246 orang. Tetapi dalam politik, angka 315 menjadi pernyataan simbolik—pernyataan politik untuk menegaskan legitimasi perjuangan rakyat Papua,” ungkapnya.
Perjalanan perjuangan tersebut tidak berhenti di Senayan. Setelah bertemu Komisi II DPR RI, rombongan melanjutkan pertemuan dengan Menko Polhukam, Departemen Dalam Negeri, hingga ke Istana Negara. Situasi politik saat itu sangat dinamis, bahkan diwarnai berbagai bentuk penolakan terhadap rencana pemekaran. Namun semangat perjuangan tidak pernah surut.
Ijie menuturkan, malam 19 September 2002 menjadi salah satu momen paling berkesan. Ketika sebagian besar peserta sudah beristirahat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sejumlah tokoh nasional datang menemui perwakilan Papua. Di antara mereka adalah Letjen (Purn) A.M. Hendropriyono, Mudi P.R., dan Sebuadi Santoso.
“Mereka tiba sekitar pukul setengah satu malam. Saat itu hanya kami berlima yang masih terjaga. Pak Hendropriyono datang langsung merangkul saya. Dari situlah kami berdiskusi berdua, sekitar empat meter terpisah dari yang lain. Itu momen yang tidak akan saya lupakan,” kisahnya penuh haru.
Kisah perjuangan panjang tersebut kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul “315: Sejarah Perjuangan Pembentukan Provinsi Irian Jaya Barat”, yang telah dinilai layak terbit oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Atas kontribusinya dalam memperjuangkan pembentukan Papua Barat, Ijie memperoleh kenaikan pangkat istimewa pada tahun 2017.
“Saya bukan hanya penulis, tetapi juga pelaku sejarah. Karena itu, saya selalu katakan, jangan sembarangan menggunakan angka 315 tanpa memahami maknanya. Angka itu bukan sekadar angka—itu simbol perjuangan, semangat, dan pengorbanan rakyat Papua,” pesan Dr. Origenes Ijie menutup kisahnya. (red)
