MANOKWARI, PinFunPapua.com – Dalam rangka mempererat persaudaraan serta memperkuat persatuan masyarakat adat, Keluarga Besar Suku Byak Papua Barat menggelar Perayaan Natal Bersama Tahun 2025 yang berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Sanggeng, Manokwari, Senin (15/12/2025) malam.
Perayaan Natal yang dilaksanakan sejak pukul 19.00 hingga 21.00 WIT tersebut mengusung tema dalam bahasa Byak, “Allah Ryama Bye Mamfaspar Faro Kina”, yang mencerminkan nilai kebersamaan, iman, dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Ribuan warga Suku Byak yang berdomisili di Kabupaten Manokwari dan sekitarnya tampak memadati lokasi kegiatan dengan penuh sukacita.
Natal Bersama Suku Byak Papua Barat Tahun 2025 turut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Kabupaten Manokwari, serta Wakil Bupati Kabupaten Biak Numfor. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi wujud dukungan pemerintah terhadap pelestarian nilai-nilai budaya dan penguatan harmoni sosial di Tanah Papua.
Acara perayaan Natal semakin semarak dengan penampilan sejumlah artis Tanah Papua, di antaranya Mechu Imbiri, Sandy Betay, Joan Wakum, Franz Rumbino, Manbri Sroyer, dan Dave Baransano, yang menyuguhkan hiburan bernuansa rohani dan budaya khas Papua.
Kepala Suku (Mananwir) Byak Bar Mnukwar, Petrus Makbon, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya perayaan Natal bersama tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan ketertiban, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
“Melalui momentum Natal ini, saya mengajak seluruh masyarakat Suku Byak, khususnya yang berada di Manokwari dan Papua Barat, untuk terus menjaga persatuan, baik antarsuku maupun sebagai satu kesatuan masyarakat Papua. Kita juga harus bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Suku (Manfasfas) Byak Bar Mnukwar, Dr. Filep Wamafma, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, mengajak masyarakat Suku Byak dan seluruh masyarakat Papua untuk terus mendukung pemerintah, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota.
Menurut Dr. Filep, Suku Byak yang tinggal dan menetap di Manokwari serta Papua Barat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memikirkan masa depan dan kesejahteraan masyarakat Papua, termasuk masyarakat Suku Byak.

“Kita akan hidup, tinggal, dan beranak cucu di sini. Karena itu, jangan khawatir terhadap masa depan Papua Barat. Pemerintah, termasuk gubernur dan para kepala daerah, terus berupaya membangun daerah ini demi kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung visi dan misi gubernur serta bupati dalam membangun daerah. Menurutnya, siapa pun pemimpin yang terpilih memiliki tanggung jawab untuk mensejahterakan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku dan golongan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Filep menegaskan bahwa masyarakat Suku Byak memiliki potensi besar dalam berbagai bidang pembangunan, baik di sektor birokrasi, pendidikan, maupun pelayanan keagamaan.
“Pendeta, majelis jemaat, dan guru jemaat adalah profesi yang sangat mulia karena menyelamatkan manusia. Tidak ada alasan orang Byak tidak menjadi hamba Tuhan, baik di tingkat jemaat, klasis, maupun sinode,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kecerdasan alamiah orang Byak yang diwariskan oleh leluhur, seperti kemampuan para pelaut Byak pada masa lalu yang mampu mengarungi samudra dengan perhitungan yang tepat. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya pendidikan formal sebagai bekal menghadapi tantangan zaman modern.
Selain itu, Dr. Filep mengingatkan masyarakat akan ancaman serius terhadap keberlangsungan orang asli Papua, khususnya penyakit menular seperti HIV/AIDS yang telah menyasar seluruh lapisan masyarakat.
“Penyakit ini menjadi salah satu faktor menurunnya populasi orang asli Papua. Karena itu, kita harus bersama-sama mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangannya,” tegasnya.
Dalam pesannya, Dr. Filep juga menekankan pentingnya persatuan orang asli Papua di tengah pemekaran wilayah dan keberagaman adat istiadat. Ia menegaskan bahwa pemekaran wilayah bersifat administratif dan tidak boleh memecah persatuan sebagai satu kesatuan Papua.
“Orang asli Papua boleh terbagi dalam wilayah administrasi, tetapi tetap satu, yaitu Papua. Papua tidak bisa dibangun oleh satu suku saja, melainkan oleh seluruh suku asli Papua yang bersatu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh suku asli Papua memiliki hak yang sama di seluruh wilayah Tanah Papua dan mengajak masyarakat Suku Byak untuk menjadi pelopor dalam mempersatukan orang asli Papua demi masa depan yang lebih baik. (red)
