MANOKWARI, PinFunPapua.com — Kasus pengeroyokan yang melibatkan siswa di SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat memicu reaksi keras dari orang tua korban. Insiden tersebut terjadi pada Rabu malam (22/04/2026) saat kegiatan kelas malam berlangsung.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, aksi kekerasan diduga dilakukan secara terencana. Pelaku disebut mematikan sekring listrik hingga suasana menjadi gelap, sebelum kemudian melakukan pengeroyokan terhadap sejumlah siswa kelas X oleh siswa kelas XI.
Orang tua korban yang tergabung dalam Paguyuban Angkatan 5 mengungkapkan, jumlah korban cukup banyak dengan kondisi luka yang bervariasi, mulai dari luka memar hingga cedera serius.
“Anak-anak kami dikeroyok. Ada yang patah tulang, patah rusuk, luka di kepala, bahkan ada luka sayatan,” ujarnya, Kamis (23/04/2026).
Selain mengecam tindakan kekerasan tersebut, pihak orang tua juga menyoroti minimnya tanggung jawab sekolah dalam penanganan korban. Mereka mengaku harus menanggung sendiri seluruh biaya pengobatan dan administrasi rumah sakit tanpa bantuan dari pihak sekolah.
“Kami yang urus semuanya. Sekolah tidak hadir saat anak-anak kami dirawat. Ini seharusnya jadi tanggung jawab sekolah,” tegasnya.
Dalam tuntutannya, orang tua meminta pihak sekolah segera mengambil langkah konkret. Pertama, bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan dan pemulihan korban. Kedua, melakukan pembenahan sistem pembinaan siswa, termasuk pengawasan terhadap interaksi antarangkatan.
Mereka menilai budaya senioritas di lingkungan sekolah menjadi pemicu utama terjadinya kekerasan. Praktik tersebut dinilai telah bergeser menjadi ajang intimidasi hingga perundungan.
“Budaya senioritas ini harus dihentikan. Tidak boleh lagi ada kekerasan dengan alasan apapun,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, orang tua juga mengusulkan agar seluruh siswa kelas XI dan XII membuat surat pernyataan resmi yang disaksikan aparat kepolisian. Isi pernyataan tersebut berupa komitmen untuk tidak melakukan tindakan kekerasan maupun pelanggaran hukum lainnya.
“Kalau ada komitmen tertulis dan melibatkan aparat, ini bisa jadi efek jera,” ujarnya.
Orang tua berharap kejadian ini menjadi titik evaluasi bagi pihak sekolah untuk melakukan perbaikan menyeluruh, tanpa menghilangkan reputasi sebagai lembaga pendidikan unggulan di Papua Barat.
“Kami ingin sekolah ini tetap maju, tapi sistemnya harus dibenahi dan aturan ditegakkan lebih tegas,” pungkasnya. (JN)
