FAKFAK,PinFunPapua.com – Keterbatasan fasilitas penunjang seni dan budaya di sejumlah kabupaten di Provinsi Papua Barat kembali menjadi sorotan. Para pegiat seni dan musik menilai, minimnya ruang berekspresi menjadi hambatan utama dalam mengembangkan kreativitas generasi muda di daerah.
Hingga saat ini, belum tersedia gedung kesenian yang representatif dan berfungsi secara berkelanjutan untuk mengakomodasi berbagai kegiatan, mulai dari pameran, diskusi, hingga pertunjukan seni. Akibatnya, banyak komunitas terpaksa memanfaatkan ruang seadanya, bahkan menggelar kegiatan di tempat yang tidak dirancang untuk aktivitas seni.
Sejumlah komunitas pun berharap pemerintah daerah tidak hanya menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga mengaktifkan kembali gedung kesenian yang pernah ada. Mereka meyakini, kehadiran ruang yang layak dan terbuka akan mendorong tumbuhnya ekosistem seni yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR Provinsi Papua Barat, Fachry Tura, mengakui bahwa ketersediaan fasilitas seni di wilayah tersebut masih sangat terbatas. Ia bahkan menyebut Papua Barat hingga kini belum memiliki gedung kesenian yang benar-benar representatif.
“Terkait seni dan budaya, saat ini memang belum ada gedung kesenian yang representatif di Papua Barat,” ujar Fachry, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, persoalan ini telah menjadi perhatian di tingkat legislatif. Dalam tanggapan fraksi pada akhir tahun sebelumnya, ia mengusulkan penguatan kelembagaan sebagai langkah awal dalam membangun fondasi pengembangan seni dan budaya.
“Saya mengusulkan agar kita menghidupkan kembali Dewan Kesenian Papua Barat. Jika ini terbentuk, maka akan dilanjutkan dengan pembentukan di tingkat kabupaten,” jelasnya.
Fachry menilai, keberadaan lembaga kesenian yang aktif dapat menjadi motor penggerak dalam mengelola program, memfasilitasi seniman, serta membuka ruang kolaborasi antara pelaku seni lokal dan luar daerah. Dengan demikian, pengembangan seni tidak berjalan sporadis, melainkan lebih terarah dan berkelanjutan.
Ia juga menekankan bahwa perhatian terhadap sektor seni dan budaya merupakan bagian penting dari indikator pembangunan daerah. Kemajuan suatu wilayah, kata dia, tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana pemerintah memberikan ruang bagi generasi muda untuk berekspresi.
“Salah satu indikator kota yang maju adalah bagaimana kota tersebut memperhatikan seni dan budaya, terutama generasi mudanya. Karena tonggak pembangunan itu ada pada anak muda,” ujarnya.
Selain itu, Fachry turut menyoroti pentingnya perlindungan terhadap seni budaya dan seniman lokal agar tetap eksis di tengah perkembangan zaman.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah dapat lebih serius menghadirkan fasilitas pendukung, termasuk gedung kesenian yang layak, terbuka, dan mudah diakses oleh berbagai komunitas. Dengan dukungan tersebut, aktivitas seni dan budaya di Papua Barat diharapkan tidak hanya berkembang pesat, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas. (Risman Bauw).
