FAKFAK,PinFunPapua.com – Fenomena dominasi musisi dari luar daerah dalam berbagai event besar di Papua Barat mulai menuai sorotan. Di tengah maraknya perayaan daerah, ruang bagi seniman lokal dinilai semakin menyempit, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan ekosistem seni di tingkat lokal.
Dalam sejumlah agenda, seperti perayaan hari ulang tahun daerah di berbagai wilayah Papua Barat, kehadiran artis ibu kota kerap dijadikan strategi utama untuk menarik perhatian publik. Pemerintah daerah menilai langkah tersebut efektif meningkatkan daya tarik acara dan partisipasi masyarakat.
Namun di balik kemeriahan itu, muncul konsekuensi yang jarang disorot. Keterlibatan seniman lokal sering kali terbatas, bahkan tidak menjadi bagian utama dalam konsep acara.
Kondisi ini dinilai berdampak tidak hanya pada minimnya kesempatan tampil, tetapi juga pada proses regenerasi, kepercayaan diri, serta keberlanjutan komunitas seni di daerah. Sejumlah pelaku seni menilai panggung daerah seharusnya menjadi ruang utama untuk menampilkan identitas dan kekayaan budaya lokal.
Anggota DPR Provinsi Papua Barat daerah pemilihan Fakfak periode 2024–2029, Fachry Tura, menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap seniman lokal dalam setiap penyelenggaraan event.
“Beberapa waktu terakhir, event-event di Papua Barat lebih banyak menghadirkan musisi dari luar daerah. Boleh saja menghadirkan bintang tamu dari luar sebagai penampil utama,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Namun demikian, ia menekankan bahwa perhatian terhadap pelaku seni lokal harus menjadi prioritas.
“Wajib hukumnya kita memperhatikan seniman lokal. Ketika kita menghargai dan membayar karya anak daerah dengan layak, maka uang itu juga akan berputar di daerah kita sendiri,” katanya.
Menurut Fachry, pendekatan yang terlalu berfokus pada artis luar berpotensi menciptakan ketimpangan dalam pengelolaan event. Seniman lokal kerap hanya ditempatkan sebagai pelengkap, bukan bagian utama dari konsep acara.
Padahal, kualitas karya lokal dinilai tidak kalah dan justru memiliki peran penting dalam membangun identitas daerah.
“Jangan semua dari luar. Harus ada ruang bagi sanggar tari, kelompok budaya dari kampung-kampung, musisi lokal, pelukis, dan pelaku seni lainnya untuk tampil,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem seni tidak cukup hanya melalui event seremonial. Diperlukan kebijakan yang berpihak, penyediaan fasilitas, serta program pembinaan yang berkelanjutan.
Fachry yang juga aktif sebagai pelaku seni mengaku memahami langsung berbagai tantangan yang dihadapi komunitas, mulai dari keterbatasan ruang tampil hingga minimnya dukungan infrastruktur.
“Saya akan terus menyuarakan hal ini. Selain sebagai legislator, saya juga aktif di dunia seni, sehingga memahami kondisi di lapangan,” ujarnya.
Para pelaku seni di Papua Barat pun berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret, seperti menyediakan kuota khusus bagi seniman lokal dalam setiap event, melakukan kurasi yang adil, serta menghidupkan kembali ruang-ruang kesenian sebagai wadah ekspresi dan pengembangan kreativitas. (Risman Bauw).
