FAKFAK,PinFunPapua.com – Peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua bukan sekadar agenda seremonial keagamaan, tetapi momentum bersejarah untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan yang telah mengakar kuat di Bumi Papua selama berabad-abad.
Menjelang pelaksanaan kegiatan yang akan digelar dalam waktu dekat, panitia terus mematangkan berbagai persiapan guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sukses dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, Rabu (10/6/2026).
Ketua Panitia, Dr. H. Wahidin Puarada, M.Si, mengatakan seluruh proses persiapan telah dimulai sejak awal April 2026 melalui pembentukan struktur kepanitiaan secara resmi yang kemudian dilanjutkan dengan konsolidasi internal serta pembagian tugas kepada masing-masing bidang.
“Sejak awal April kami sudah mulai bekerja. Setelah kepanitiaan terbentuk, kami langsung melakukan konsolidasi dan saat ini terus melakukan sosialisasi serta publikasi melalui berbagai media, termasuk RRI,” ujar Wahidin.
Menurutnya, sosialisasi yang masif dilakukan agar informasi mengenai peringatan bersejarah tersebut dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di wilayah perkotaan maupun di kampung-kampung.
Panitia menargetkan sebanyak 10.000 hingga 15.000 peserta akan hadir dan terlibat dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dari seluruh Tanah Papua.
“Target kami antara 10 ribu sampai 15 ribu peserta dari berbagai elemen masyarakat di Tanah Papua,” katanya.
Untuk menyemarakkan peringatan tersebut, panitia telah menyiapkan berbagai agenda, mulai dari perlombaan bernuansa religi dan budaya hingga menghadirkan tokoh-tokoh nasional serta qari dan qariah tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Wahidin, peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua memiliki nilai historis yang sangat penting karena menjadi pengingat bahwa Islam telah menjadi bagian dari perjalanan panjang peradaban Papua yang hidup berdampingan dengan berbagai suku, budaya, dan agama dalam semangat saling menghormati.
Karena itu, ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, melainkan terbuka dan melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok tertentu.
“Semangat yang ingin kita bangun adalah kebersamaan. Kegiatan ini menjadi milik seluruh masyarakat Papua karena sejarah dan peradaban yang tumbuh di tanah ini dibangun atas dasar persaudaraan dan saling menghargai,” tegasnya.
Nilai tersebut, lanjut Wahidin, sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Fakfak yang dikenal dengan semboyan ‘Satu Tungku Tiga Batu’, simbol harmoni yang telah lama menjadi perekat hubungan antarumat beragama di Kabupaten Fakfak.
Melalui peringatan ini, panitia berharap semangat toleransi, persaudaraan, dan persatuan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Papua dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Peringatan ini bukan hanya mengenang sejarah masuknya Islam di Papua, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman yang kita miliki,” pungkasnya.
“Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan pelajaran. Ketika keberagaman dirawat dengan rasa hormat dan persaudaraan, maka kedamaian akan tumbuh menjadi warisan yang tak ternilai bagi generasi masa depan.”
(Penulis: Risman Bauw).
