Proses Persiapan Latihan Teater Komunitas Akar Rumput KAmpung Unurum bersama ISBI Jayapura. (FOTO : Aufrida Marisan )
JAYAPURA, PinFunPapua.com – Lokakarya teater komunitas yang digelar Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) bersama Famili ART dan mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Jayapura tidak hanya menghasilkan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pendidikan rakyat yang memperkuat identitas, kesadaran kritis, dan semangat Komunitas Akar rumput dalam menjaga tanah serta budaya Papua.
Penanggung jawab lokakarya teater, Indra Heryanto yang sapaan akrapnya Acho mengatakan selama empat hari proses kreatif, Komunitas akar rumpuut kampung Unurumguay mengikuti berbagai tahapan pembelajaran yang dirancang secara partisipatif. Mereka diajak mengenali tubuh sebagai media berekspresi, mengeksplorasi pengalaman hidup, memahami emosi, membangun kerja sama, hingga menyusun sebuah pementasan berdasarkan realitas yang mereka alami sehari-hari.
Cerita yang diangkat dalam pertunjukan berpusat pada ulat sagu, yang dipilih sebagai simbol kehidupan masyarakat Papua. Melalui kisah tersebut, Komunitas menggambarkan hubungan erat manusia dengan hutan, tanah adat, dan kekayaan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan Komunitas akar rumput kampung unurumguay, ujarnya.
Pementasan juga menggambarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Nilai-nilai gotong royong, penghormatan terhadap warisan leluhur, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Selain menyuarakan pentingnya pelestarian alam, pertunjukan tersebut juga menghadirkan harapan agar generasi muda tetap mempertahankan tanah adat, memperkuat persatuan, serta menjaga budaya lokal sebagai identitas masyarakat Papua,katanya
Bagi YP3SP, teater merupakan salah satu media pendidikan populer yang mampu membangun proses belajar secara dialogis. Melalui seni pertunjukan, komunitas akar rumput tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menceritakan pengalaman hidup mereka sendiri.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi YP3SP yang berfokus pada pembangunan manusia, penguatan komunitas akar rumput, peningkatan kesadaran kritis, perlindungan tanah adat, serta mendorong lahirnya komunitas yang mampu menjadi agen perubahan.
Dalam proses lokakarya, komunitas akar rumput diajak merefleksikan berbagai persoalan yang dihadapi komunitas, seperti perampasan tanah adat, kerusakan lingkungan, berkurangnya pangan lokal, hingga meningkatnya ketergantungan terhadap bantuan dari luar. Berbagai isu tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam adegan-adegan teater yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh komunitas dan masyarakat adat, ungkapnya
Melalui latihan dan pementasan, peserta juga memperoleh pengalaman berorganisasi, belajar bekerja sama, berkomunikasi di depan umum, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Keterampilan tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas komuitas dalam memimpin berbagai kegiatan di tingkat kampung.
Kata Acho, Teater juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan tokoh adat, orang tua, pemuda, perempuan, dan anak-anak. Dalam ruang tersebut, setiap kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi pengalaman, menyampaikan gagasan, serta membangun kesepahaman mengenai masa depan komunitas.
Lebih dari sekadar pertunjukan, teater diposisikan sebagai pemicu aksi kolektif. Setelah pementasan berlangsung, komunitas didorong untuk berdiskusi mengenai langkah-langkah nyata dalam menjaga tanah adat, melestarikan lingkungan, memperkuat budaya lokal, serta membangun kemandirian komunitas.
Bagi perempuan, pemuda, dan kelompok yang selama ini jarang memperoleh ruang untuk berbicara, teater menjadi wadah yang aman untuk menyampaikan pengalaman, harapan, dan pandangan mereka mengenai berbagai persoalan yang dihadapi komunitad dan masyarakat adat, tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, YP3SP berharap seni pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan semata, tetapi berkembang menjadi sarana pendidikan rakyat, pengorganisasian komunitas, dan transformasi sosial.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan sebuah pementasan yang menarik, melainkan membangun komunitas yang sadar akan identitasnya, mampu menganalisis persoalan yang dihadapi, serta bergerak bersama menjaga tanah adat, budaya, lingkungan, dan masa depan generasi Papua, pungkasnya. (red)
