Penanggung jawab lokakarya teater, Indra Heryanto (FOTO: Aufrida Marisan )
JAYAPURA, PinFunPapua.com – Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) bekerja sama dengan Famili ART menyelenggarakan lokakarya teater komunitas bagi Komunitas akar rumput dari kampung Unurumguay, Kabupaten Jayapura, dengan melibatkan mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Jayapura. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas komunitas akar rumput melalui pendekatan seni sebagai media pendidikan, refleksi, dan penyampaian aspirasi.
Lokakarya dilaksanakan selama satu pekan di Kota Jayapura dengan pusat kegiatan di Kediaman Indonesia Art Movement yang berlokasi di Entrop. Selama kegiatan berlangsung, komunitas akar rumput mendapatkan berbagai materi mengenai dasar-dasar seni peran, pengenalan tubuh sebagai media ekspresi, pengolahan emosi, kerja sama dalam kelompok, hingga penyusunan sebuah pertunjukan teater yang lahir dari pengalaman hidup komunitas.
Penanggung jawab lokakarya teater, Indra Heryanto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan teater sebagai media alternatif untuk menyampaikan pendapat, kritik, maupun gagasan yang berkembang di tengah komunitas dan masyarakat.
Menurutnya, seni pertunjukan memiliki kekuatan untuk menyampaikan berbagai persoalan sosial dengan cara yang lebih mudah dipahami sekaligus menyentuh emosi penonton.
“Teater kami gunakan sebagai media untuk menyampaikan suara komunitas. Apa yang menjadi persoalan yang mereka rasakan di komunitas akan diolah menjadi sebuah pertunjukan. Ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi melalui media seni yang sejalan dengan visi YP3SP, terutama dalam memperkuat identitas Komunitas Akar Rumput dan masyarakat adat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan akting, tetapi juga membangun keberanian peserta untuk berbicara di depan publik, mengungkapkan pengalaman hidup, serta menumbuhkan rasa percaya diri.
Menurut Indra, keberhasilan lokakarya tidak diukur dari bagus atau tidaknya sebuah pementasan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran komunitas bahwa mereka memiliki hak dan kemampuan untuk menyuarakan persoalan yang mereka alami.

“Lokakarya ini penting untuk membuka cara berpikir teman-teman komunitas, menumbuhkan keberanian, dan yang paling utama membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu menyampaikan apa yang mereka rasakan,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kemampuan belajar peserta dari Kampung Unurumguay yang dinilai cepat memahami setiap materi yang diberikan selama pelatihan berlangsung.
“Daya tangkap mereka sangat baik. Mereka cepat memahami materi, mengerti apa yang harus dilakukan, dan mampu bekerja sama selama proses latihan berlangsung,” ungkapnya.
Indra berharap seluruh pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama lokakarya tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi terus menjadi bekal bagi Komunitas dalam menyampaikan aspirasi serta memperjuangkan kepentingan komunitasnya secara kreatif dan damai.
“Kami berharap apa yang mereka dapatkan selama pelatihan tetap menjadi pegangan hidup dan terus digunakan untuk menyuarakan apa yang terjadi di komunitas mereka sendiri,” tuturnya.
Melalui kolaborasi antara YP3SP, Famili ART, dan mahasiswa ISBI Jayapura, lokakarya tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya ruang-ruang ekspresi baru bagi Komunitas akar rumput. Seni pertunjukan dipandang bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan rakyat yang mampu membangun kesadaran kritis, memperkuat solidaritas, dan mendorong perubahan sosial yang berakar pada kebutuhan Komunitas akar rumput dan masyarakat adat. (red)
