FAKFAK,PinFunPapua.com – Di tengah cuaca panas dan kondisi kabut asap yang masih menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Fakfak, Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., menyerukan kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Ia mengajak umat Katolik dan seluruh masyarakat Fakfak untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan, menghemat air, menjaga ketertiban, serta tetap membangun kepedulian terhadap sesama di tengah kondisi yang tidak mudah.
Pesan tersebut disampaikan Mgr. Hilarion saat memimpin Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Yosep Fakfak, Minggu (4/10/2026) pagi.
Dalam khotbahnya, Uskup Hilarion mengingatkan umat bahwa kondisi cuaca panas dan berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia merupakan persoalan yang patut menjadi bahan refleksi bersama.
“Hari-hari ini hampir di seluruh Indonesia kita mengalami keadaan yang panas. Ada hujan, tetapi sudah begitu banyak bencana. Ada gempa bumi, ada gunung berapi yang menyemburkan abu-abunya. Semua ini menjadi tanda bahwa perubahan iklim nyata terjadi,” kata Uskup Hilarion.
Jangan Tambah Luka Alam
Menurut Uskup Hilarion, manusia tidak boleh mengabaikan dampak aktivitasnya terhadap lingkungan. Ia secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api secara sembarangan yang berpotensi memperparah kondisi lingkungan.
“Karena itu, jangan kita ikut-ikut saja. Jangan sembarangan membakar. Jangan kita menambah kerusakan. Jangan membuang api sembarangan sehingga akhirnya kita membakar hutan-hutan, mulai dari kebun-kebun kecil sampai hutan-hutan yang luas,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika kondisi panas dan asap tengah dirasakan masyarakat Fakfak.
Uskup Hilarion bahkan menceritakan pengalamannya ketika melihat wilayah Fakfak dari atas pesawat. Ia menggambarkan adanya asap yang menyelimuti sejumlah kawasan dan mengaku prihatin melihat kondisi tersebut.
“Pisang-pisang dan pohon-pohon terbakar semua. Akhirnya, asap di Kota Fakfak yang indah ini sudah seperti neraka,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekayaan alam Fakfak, termasuk tanaman pala yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat, perlu dijaga bersama.
“Kita dari atas pesawat ketika melihat Fakfak, di mana pohon-pohon pala menjadi kebanggaan kita, semuanya dapat terdampak,” lanjutnya.
Menjaga Alam Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Uskup Hilarion menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas di lapangan.
Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting melalui tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak membakar sembarangan, menjaga hutan dan kebun, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana merupakan bentuk nyata tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Alam yang kita warisi bukan milik kita seorang. Ia adalah titipan yang harus kita jaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi yang belum lahir.”
Air Menipis, Warga Diminta Saling Membantu
Selain persoalan asap dan kebakaran, Uskup Hilarion juga menyinggung dampak kondisi panas dan kekeringan terhadap ketersediaan air.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak berlebihan menggunakan air serta tetap menjaga ketertiban ketika kebutuhan air bersih meningkat.
“Akibat lain dari kekeringan ini adalah air menjadi sulit. Maka, keadaan ini juga mengajarkan kita untuk berhemat, mengajarkan kita untuk bersabar, dan mengajarkan kita untuk mengantre dalam pengambilan air dengan tertib,” katanya.
“Kita harus mengerti bahwa sekarang sudah lama air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tidak cukup air bersih, tidak cukup air untuk berbagai kebutuhan. Maka, kita harus saling membantu,” lanjutnya.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk saling menyalahkan. Sebaliknya, kesulitan dapat menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas.
Panas Jangan Membakar Emosi
Hal lain yang menjadi perhatian Uskup Hilarion adalah dampak kondisi panas terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, ketidaknyamanan akibat cuaca panas dapat memengaruhi emosi seseorang sehingga lebih mudah tersinggung dan marah.
“Selain itu, kondisi panas terik juga membuat orang mudah marah. Wajah tidak baik, tidak tersenyum. Bahkan, orang bisa mudah tersinggung dan marah kepada sesamanya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak umat untuk tetap menjaga kesabaran, keramahan dan rasa hormat kepada orang lain.
“Karena itu, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, Saudara dan Saudari yang terkasih, sebagai orang-orang beriman, kita belajar bukan hanya dari Alkitab, tetapi juga dari suri teladan,” pesan Uskup Hilarion.
Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi persoalan lingkungan tidak cukup hanya dengan mengeluh atau menunggu tindakan pihak lain.
Ada hal-hal sederhana yang dapat dilakukan setiap orang: tidak menyalakan api sembarangan, menghemat air, menjaga lingkungan, menahan emosi, serta membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Pada akhirnya, menjaga alam dan menjaga sesama merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Ketika alam terluka, manusia ikut merasakan akibatnya. Ketika sesama sedang kesulitan, kepedulian kita menjadi bagian dari jalan keluar. Sebab, bumi yang sehat membutuhkan manusia yang peduli, dan masyarakat yang kuat lahir dari orang-orang yang mau saling menjaga.”
Dari Fakfak, pesan itu menjadi sederhana tetapi penting: jangan menambah luka pada alam, jangan memperbesar kesulitan sesama, dan jangan kehilangan kasih hanya karena keadaan sedang panas.
(Jurnalis : Risman Bauw).
