MANOKWARI, PinFunpapua.com – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Manokwari, Papua Barat, dalam beberapa pekan terakhir mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Rendani. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan demi menjaga keselamatan penumpang.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan kabut asap yang berdampak terhadap operasional penerbangan di Manokwari diduga berasal dari luar wilayah tersebut.
Berdasarkan peta sebaran yang dipantau melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kabut asap terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Fakfak. Wilayah yang disebut mengalami dampak paling besar adalah Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
“Jarak pandang atau visibility menurun sehingga beberapa maskapai tidak bisa melakukan pendaratan di Bandara Rendani Manokwari,” kata Herman.
Ia menjelaskan, operasional Bandara Rendani secara normal berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 16.00 WIT. Namun, kondisi cuaca dan jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan membuat jadwal penerbangan mengalami perubahan.
Pada Sabtu, sejumlah penerbangan dari dan menuju Manokwari terpaksa dibatalkan karena kabut asap yang cukup pekat. Penerbangan tersebut antara lain Wings Air dari Kaimana dan Nabire, Batik Air dan Lion Air dari Sorong maupun Jayapura, serta Super Air Jet dari Makassar.
Selain itu, sejumlah penerbangan perintis Susi Air dengan tujuan Kabupaten Teluk Bintuni juga tidak dapat beroperasi karena jarak pandang dilaporkan berada di bawah satu kilometer.
“Jarak pandang tidak membaik sehingga semua penerbangan di Manokwari dibatalkan karena diselimuti kabut asap,” ujarnya.
Sejumlah penerbangan terlambat
Gangguan penerbangan berlanjut pada Minggu. Sejumlah pesawat baru dapat mendarat setelah mengalami keterlambatan beberapa jam akibat kondisi cuaca yang belum memungkinkan.
Herman mencontohkan, pesawat Batik Air dari Sorong yang dijadwalkan mendarat pukul 08.25 WIT baru tiba pada siang hari. Setelah itu, pesawat melanjutkan perjalanan menuju Sorong dan kemudian Jakarta sesuai rute penerbangannya.
Lion Air yang dijadwalkan mendarat pukul 07.40 WIT juga baru tiba pada siang hari. Pesawat tersebut terlebih dahulu mendarat di Jayapura sebelum melanjutkan penerbangan ke Manokwari dan kemudian Sorong.
Sementara itu, Super Air Jet yang dijadwalkan mendarat pukul 07.00 WIT baru dapat beroperasi setelah menunggu kondisi cuaca membaik. Pesawat tersebut kemudian dijadwalkan berangkat dari Manokwari pada pukul 13.30 WIT, Senin (12/10/2026).
Herman mengatakan, keterlambatan tersebut sepenuhnya menyesuaikan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan. Pihak bandara bersama maskapai terus memantau perkembangan situasi sebelum memberikan izin operasional sesuai ketentuan yang berlaku.
“Intinya, kami mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan. Kepada pengguna jasa, tidak perlu khawatir karena keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas utama,” katanya.
Kabut asap di Sorong berdampak pada rute penerbangan
Herman mengatakan, kondisi cuaca di Manokwari pada Senin (12/10/2026) sebenarnya cukup baik. Super Air Jet bahkan telah dapat mendarat sesuai jadwal pukul 07.00 WIT dan melanjutkan penerbangan kembali menuju Makassar.
Namun, kabut asap yang menyelimuti Sorong kembali memengaruhi penerbangan menuju Manokwari. Kondisi tersebut berdampak pada maskapai yang melayani rute transit melalui Sorong.
Batik Air, yang melayani rute Jakarta-Sorong-Manokwari, belum dapat melanjutkan penerbangan menuju Manokwari karena pesawat belum dapat mendarat di Sorong.
Hal serupa dialami Lion Air yang melayani rute Makassar-Sorong-Manokwari. Berdasarkan informasi yang diterima pihak bandara, Lion Air masih berada di Makassar, sedangkan Batik Air dilaporkan telah berada di Sorong, tetapi tidak dapat mendarat dan dialihkan ke Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.
Sementara itu, penerbangan perintis disebut masih beroperasi sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Penumpang bisa dijadwalkan ulang atau mendapat pengembalian dana
Terkait dampak pembatalan dan keterlambatan penerbangan, Herman menjelaskan bahwa kondisi cuaca merupakan faktor di luar kendali pihak bandara maupun maskapai. Meski demikian, penumpang yang terdampak tetap memiliki pilihan untuk mengatur kembali perjalanan mereka.
Menurut dia, penumpang yang penerbangannya dibatalkan dapat mengajukan penjadwalan ulang (reschedule) atau pengembalian dana (refund) sebesar 100 persen tanpa potongan, sesuai ketentuan yang berlaku.
“Penumpang yang terdampak bisa dijadwalkan ulang atau mendapatkan pengembalian dana 100 persen tanpa dikenakan potongan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penjadwalan ulang bergantung pada ketersediaan kursi dan jadwal penerbangan berikutnya. Jika tidak tersedia jadwal yang sesuai, penumpang dapat memilih pengembalian dana.
Herman mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Rendani agar terus memantau informasi terbaru dari maskapai dan menyesuaikan rencana perjalanan dengan perkembangan kondisi cuaca.
“Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas. Operasional penerbangan akan menyesuaikan kondisi cuaca dan jarak pandang di bandara,” pungkasnya. (Dhy)
