Oleh: Haydar Delshady Tukuwain
Peserta LK III Papua Barat – Papua Barat Dayaq
RAJA AMPAT, PinFunPapua.com — Tauhid kerap dipahami sebatas doktrin keimanan yang bersifat teologis. Padahal, dalam kerangka Nilai Dasar Perjuangan (NDP), tauhid seharusnya dimaknai sebagai fondasi utama pembentukan kader sekaligus penentu arah peradaban. Tanpa pemahaman yang utuh terhadap hal ini, proses kaderisasi berisiko melahirkan aktivis yang aktif secara gerakan, tetapi kehilangan orientasi nilai. Akibatnya, arah perjuangan dan peradaban yang dibangun tidak lagi berpijak pada nilai, melainkan sekadar rutinitas aktivitas tanpa makna transformatif.
NDP dapat dipahami sebagai upaya menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam kerangka perjuangan kader. NDP tidak berhenti pada tataran normatif, melainkan menjadi panduan praksis tentang bagaimana kader, sebagai khalifah, memosisikan diri di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Relasi antara Tuhan dan manusia menjadi titik awal bagi kesadaran akan keterbatasan diri sekaligus amanah besar yang dipikul dalam kehidupan sosial.
Kesadaran tersebut berfungsi mencegah manusia terjebak dalam kesombongan, baik karena kekuasaan, pengetahuan, maupun orientasi materialistik. Dalam perspektif tauhid dan NDP, seluruh ikhtiar manusia sejatinya berada dalam horizon ketuhanan. Artinya, setiap tindakan, keputusan, dan perjuangan harus senantiasa berpijak pada nilai moral dan tanggung jawab spiritual.
Dalam kerangka inilah ikhtiar menempati posisi sentral. Ikhtiar merupakan manifestasi konkret dari tauhid yang dihidupkan dalam realitas. Keimanan tidak melahirkan sikap pasif atau fatalistik, melainkan dorongan untuk bertindak secara sadar dan bertanggung jawab. Ikhtiar menuntut manusia membaca realitas secara jernih, memahami hukum sebab-akibat, serta mengambil keputusan dengan kesadaran moral. Pada titik ini, tauhid bertemu dengan rasionalitas dan praksis sosial.
Ikhtiar yang dijalankan secara benar akan melahirkan dua bentuk kesadaran sekaligus, yakni kesadaran spiritualitas dan kesadaran intelektualitas. Kesadaran spiritualitas menjaga orientasi nilai agar setiap tindakan tidak menyimpang dari etika dan tujuan luhur. Sementara itu, kesadaran intelektualitas membekali kader dengan kemampuan memahami kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, dan politik. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Spiritualitas tanpa intelektualitas berisiko jatuh pada romantisme moral, sedangkan intelektualitas tanpa spiritualitas mudah tergelincir menjadi pragmatisme yang kering nilai.
Dari ikhtiar inilah kualitas kader dibentuk. Kader yang berangkat dari tauhid dan NDP bukan sekadar individu yang saleh secara personal atau cakap secara intelektual, melainkan manusia utuh yang memiliki karakter, daya kritis, dan kepekaan sosial. Kualitas ini menjadi penting karena kader tidak hidup dalam ruang hampa. Ia hadir dan bergerak di tengah masyarakat, memimpin umat, serta turut menentukan arah bangsa. Tanpa fondasi nilai yang kokoh, kader berpotensi kehilangan orientasi ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, dan godaan material.
Lebih jauh, pembentukan kader berbasis tauhid dan NDP merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban. Peradaban tidak semata-mata dibangun oleh kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Ketika kader mampu memadukan ikhtiar dengan kesadaran spiritual dan pengetahuan yang memadai, maka keadilan sosial, keadilan ekonomi, serta tanggung jawab kepemimpinan tidak lagi berhenti sebagai slogan, melainkan teraktualisasi secara nyata dalam kehidupan masyarakat.
Namun demikian, perlu disadari bahwa nilai tidak akan bekerja dengan sendirinya. Tauhid dan NDP harus terus diinternalisasi, diimplementasikan dalam realitas sosial, serta dijaga agar tidak tereduksi menjadi dogma formal semata. Proses pembentukan kader harus diarahkan tidak hanya pada penguasaan konsep, tetapi juga pada pembiasaan sikap, penguatan pola pikir kritis, serta keberanian moral dalam mengambil posisi yang benar. Tanpa hal tersebut, nilai justru berisiko dikuasai oleh ego, bukan membentuk ego yang tunduk pada nilai.
Dengan demikian, tanpa fondasi tauhid dan NDP yang dihidupkan secara kritis dan kontekstual, kaderisasi berisiko kehilangan ruh perjuangannya. Sebaliknya, dari kader-kader yang berakar kuat pada nilai inilah peradaban masyarakat yang adil dan makmur, serta diridai oleh Allah Swt., dapat dibangun secara berkelanjutan.
