FAKFAK,PinFunPapua.com – Peringatan ke-666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah, tetapi juga diharapkan menjadi sarana edukasi, pemersatu masyarakat, dan wadah pengembangan generasi muda.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan kali ini dikemas lebih inovatif, meriah, dan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas melalui berbagai kegiatan edukatif, budaya, dan perlombaan yang telah disiapkan panitia.
Sekretaris Panitia Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua, Aslan Bukhari Mahubessy, mengatakan konsep pelaksanaan tahun ini sengaja dirancang lebih besar agar mampu menarik perhatian masyarakat sekaligus memperkenalkan kembali sejarah masuknya Islam di Papua kepada generasi muda.
“Kalau tahun lalu masih sederhana, tahun ini kita kemas lebih besar dan lebih meriah agar lebih menarik perhatian masyarakat,” ujar Aslan, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, peringatan tersebut bukan hanya menjadi kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga ruang kebersamaan yang terbuka bagi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
Panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana mempererat tali persaudaraan serta memperkuat nilai-nilai toleransi yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Papua, khususnya di Kabupaten Fakfak yang dikenal dengan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”.
Selain itu, salah satu fokus utama kegiatan tahun ini adalah memberikan edukasi sejarah kepada generasi muda agar lebih memahami perjalanan panjang masuknya Islam di Tanah Papua.
“Kami ingin kegiatan ini juga menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda agar mereka memahami asal-usul masuknya Islam di Papua,” kata Aslan.
Ia menilai masih banyak pelajar dan generasi muda yang belum memahami sejarah perkembangan agama-agama di Papua. Karena itu, momentum peringatan 666 tahun ini menjadi kesempatan penting untuk menanamkan pemahaman sejarah sejak dini.
Menurut Aslan, memahami sejarah bukan sekadar mengetahui peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi bekal untuk membangun identitas, menghargai keberagaman, serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Panitia juga menyiapkan berbagai lomba yang melibatkan anak-anak dan pelajar. Selain sebagai ajang kreativitas, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda lebih aktif dalam aktivitas positif dan produktif.
“Kami berharap kegiatan-kegiatan ini dapat mengarahkan anak-anak pada hal-hal yang bermanfaat, memperluas wawasan mereka, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai yang berlebihan,” jelasnya.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, panitia optimistis seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung sukses dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
Lebih dari sekadar perayaan, peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua diharapkan menjadi momentum memperkuat kesadaran sejarah, mempererat persaudaraan, serta menjaga nilai toleransi yang telah diwariskan para pendahulu selama ratusan tahun.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Ketika generasi muda memahami akar peradabannya, maka mereka akan tumbuh dengan identitas yang kuat, menghormati perbedaan, dan mampu menjaga persatuan untuk masa depan yang lebih baik.”
(Penulis: Risman Bauw).
