Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), pendidik, sekaligus pegiat perubahan sosial,serta kesetaraan bagi komunitas LGBTQI asal Inggris, Dan Glass (FOTO : Aufrida Marisan)
Penulis: Aufrida Marisan
PAPUA, PinFunPapua.com – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), pendidik, sekaligus pegiat perubahan sosial asal Inggris, Dan Glass, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para fasilitator Yayasan Pengembangan Pelatihan untuk Perubahan Sosial di Tanah Papua (YP3SP) beserta organisasi mitra setelah mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas Training for Transformation (TfT). Menurutnya, pengalaman selama berada di Papua menjadi salah satu perjalanan paling berkesan sepanjang kiprahnya sebagai fasilitator dan aktivis internasional.
Dan Glass telah lama terlibat dalam berbagai gerakan perubahan sosial, perlindungan lingkungan, hak asasi manusia, serta kesetaraan bagi komunitas LGBTQI. Sejak 2012, ia aktif menjadi fasilitator dalam program Training for Transformation, sebuah pendekatan pendidikan yang mendorong masyarakat membangun kesadaran kritis dan memperjuangkan perubahan sosial secara partisipatif.
Dalam refleksinya di hadapan para peserta, Dan menyebut tim TfT Papua sebagai kelompok yang paling menginspirasi yang pernah ditemuinya selama mendampingi berbagai pelatihan di sejumlah negara.
“Saya telah menjadi fasilitator dan aktivis bersama Training for Transformation sejak tahun 2012. Tanpa bermaksud terdengar berlebihan, saya harus mengatakan bahwa tim TfT Papua adalah kelompok yang paling menginspirasi, paling berani, paling bersemangat secara intelektual, paling tegas, paling berbakat, paling berpengetahuan, dan paling berkomitmen yang pernah saya temui. Saya tidak bermaksud meremehkan pelatihan lainnya, tetapi memang demikian kenyataannya,” ungkap Dan.
Menjelang kepulangannya ke Inggris, Dan mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan. Ia merasa bahagia karena menyaksikan lahirnya berbagai gagasan aksi yang kreatif serta terbentuknya jaringan solidaritas internasional yang semakin kuat, termasuk hubungan antara masyarakat Papua dan Palestina. Di sisi lain, ia sedih karena kemungkinan tidak dapat kembali bertemu secara langsung dengan para peserta dalam waktu dekat.
“Saya hanya berharap pihak-pihak yang memiliki kekuasaan, baik negara, aparat keamanan, maupun kelompok paramiliter, tidak bertindak secara sewenang-wenang terhadap masyarakat. Saya sangat antusias melihat gerakan dan persatuan yang telah dibangun. Saya percaya hal-hal luar biasa akan terjadi pada masa mendatang. Namun, terkadang saya berharap masyarakat tidak perlu berjuang sekeras ini untuk memperoleh keadilan,” katanya.
Salah satu momen yang paling membekas bagi Dan adalah puisi yang dibawakan oleh peserta. Baginya, karya tersebut mencerminkan kekuatan spiritual, identitas budaya, serta kedalaman nilai-nilai yang hidup di tengah komunitas TfT Papua.
Ia meyakini komunitas tersebut memiliki banyak pelajaran yang dapat dibagikan kepada dunia, mulai dari spiritualitas, ketahanan menjaga lingkungan hidup, semangat memperjuangkan kebebasan, solidaritas, hingga kemampuan membangun komunitas yang kuat. Nilai-nilai itu, menurutnya, melampaui kepentingan individu dan menjadi kekuatan bagi kemanusiaan.
“Perjuangan ini tidak akan berhenti ketika semua orang kembali ke rumah masing-masing. Perjuangan ini jauh lebih dalam dan lebih bersifat spiritual daripada sekadar mencapai hasil jangka pendek. Yang sedang diperjuangkan adalah kemanusiaan dan kelestarian lingkungan hidup. TfT Papua memiliki kekayaan budaya, warisan, dan kebijaksanaan yang luar biasa. Saya percaya Papua akan meraih kebebasannya, sebagaimana saya juga percaya Palestina akan meraih kebebasannya,” ujarnya.
Dan menegaskan bahwa sejarah menunjukkan kekuasaan yang dibangun di atas praktik korupsi, penindasan, dan perusakan lingkungan pada akhirnya akan runtuh. Meski perjuangan membutuhkan waktu yang panjang, ia optimistis perubahan akan selalu menemukan jalannya.
Ia juga menceritakan percakapannya dengan seorang sahabat sekaligus aktivis asal Palestina, Eva. Mereka membahas bagaimana perhatian dunia internasional terhadap Papua mengalami pasang surut sejak dekade 1960-an. Namun, menurutnya, semakin banyak komunitas yang saling terhubung serta berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan, semakin besar pula peluang menghadirkan perubahan yang nyata.
“Bagi saya, merupakan sebuah kehormatan dapat memberikan kontribusi, meskipun hanya sedikit, dalam proses ini. Saya percaya Papua akan meraih kebebasannya. Pada akhirnya, kekuatan-kekuatan yang merusak lingkungan hidup maupun kehidupan sosial akan runtuh. Saya hanya berharap semua itu tidak perlu menunggu terlalu lama,” katanya.

Dan juga memberikan penghargaan kepada seluruh peserta pelatihan yang dinilainya memiliki kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Menurutnya, para fasilitator YP3SP bukan hanya berbakat, berpengetahuan luas, berani, revolusioner, dan memiliki komitmen tinggi terhadap perubahan sosial, tetapi juga mampu membangun suasana kebersamaan yang penuh sukacita.
Baginya, persahabatan, kebersamaan, musik, dan makan bersama bukan sekadar pelengkap dalam sebuah gerakan sosial, melainkan bagian penting dari proses perjuangan.
“Perjuangan menjadi indah ketika kita berjalan bersama sahabat-sahabat seperjuangan, saling memahami, saling mendukung, menikmati musik yang baik, dan makan bersama. Saat itulah kita menyadari bahwa proses perjuangan sama pentingnya dengan tujuan yang ingin dicapai,” ungkapnya.
Dan menilai perjuangan sosial juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Persahabatan dan solidaritas antarsesama pejuang menjadi sumber kekuatan untuk terus bergerak meskipun harus menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan.
Menurutnya, seseorang yang telah menyaksikan berbagai tragedi kemanusiaan, seperti genosida, pendudukan militer, kekerasan oleh kelompok paramiliter, maupun bentuk penindasan lainnya, akan terdorong untuk memperjuangkan kebahagiaan, keindahan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Itulah yang saya rasakan selama bersama kalian. Saya sedih karena harus meninggalkan tempat ini, tetapi saya tahu bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan panjang kita bersama,” ujarnya.
Sebagai penutup, Dan mengingatkan bahwa seluruh peserta telah menyepakati untuk kembali bertemu dalam sebuah refleksi bersama guna mengevaluasi berbagai aksi yang telah dilakukan sekaligus memperkuat jejaring solidaritas dalam memperjuangkan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Menurutnya, perubahan tidak dibangun oleh satu orang, melainkan melalui persahabatan, keberanian, solidaritas, dan keyakinan bahwa setiap komunitas memiliki kemampuan menentukan masa depannya sendiri. Dengan semangat itulah, Dan Glass berharap hubungan yang telah terjalin antara para pejuang perubahan di Papua dan komunitas internasional terus berkembang serta menjadi fondasi bagi terwujudnya keadilan, perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kelestarian lingkungan hidup.
