MANOKWAR, PinFunPapua.com – Pendidikan di Papua Barat masih menghadapi berbagai tantangan, terutama di daerah pedalaman seperti Kabupaten Teluk Bintuni. Salah satu tokoh yang berjuang demi pendidikan anak-anak di wilayah ini adalah Mama Henny Marisan, pendiri Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Kelompok Bermain (KB) yang telah berdiri sejak tahun 2007.
Mama Henny mendirikan sekolah ini dengan tujuan membantu anak-anak di kampungnya agar mendapatkan pendidikan yang layak. “Awalnya sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kristen (YPK), namun pada tahun 2021, YPK menarik kembali pengelolaannya. Karena saya yang membangun sekolah ini dengan tanah yang saya beli sendiri, saya menolak untuk menyerahkannya. Akhirnya, kami melanjutkan kegiatan belajar mengajar secara mandiri,” ujar Mama Henny melalui telp selulernya, Selasa (21/01/2025).

Sejak YPK menarik dukungannya, sekolah ini berjalan dengan keterbatasan tanpa adanya bantuan dari pemerintah. Namun, pada tahun 2021, nama YPK secara resmi dicabut dari sekolah tersebut, sehingga tidak lagi berstatus sebagai TK atau KB YPK. “Dari tahun 2021 hingga 2023, kami baru menerima dana bantuan tahap ketiga dan keempat sebesar Rp7 juta. Dana ini tidak cukup untuk membeli meja dan kursi, sehingga kami gunakan untuk membeli alat tulis dan membayar gaji guru honorer,” tambahnya.
Saat ini, sekolah yang dikelola oleh Mama Henny memiliki 50 siswa. Ia berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam penyediaan fasilitas belajar seperti meja dan kursi agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman. “Kami ingin anak-anak ini bisa belajar di lingkungan yang layak, karena mereka adalah generasi penerus bangsa,” harapnya.

Perjalanan Panjang dan Tantangan yang Dihadapi
Sejak pertama kali berdiri, sekolah ini telah meluluskan banyak siswa. Pada tahun 2007, terdapat 99 siswa, di mana 70 di antaranya telah lulus namun tidak melanjutkan pendidikan karena usia yang sudah dewasa. Tahun-tahun berikutnya, jumlah lulusan terus berfluktuasi, dengan beberapa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, sedangkan yang lain tidak dapat melanjutkan karena berbagai kendala, seperti tidak memiliki kartu keluarga dan akta kelahiran.
Mama Henny menjelaskan bahwa dari tahun 2008 hingga 2020, sekolahnya telah meluluskan ratusan siswa. Namun, pada tahun 2021, sekolah sempat ditutup karena adanya ancaman dari pihak tertentu yang meminta pengelolaannya dikembalikan ke YPK. “Kami tetap bertahan dan mengajar tanpa dana selama lebih dari satu tahun,” katanya.
Pada tahun 2023, Mama Henny berhasil mendaftarkan sekolah dengan nama baru, yaitu TK Negeri Nagiti. Dengan status ini, sekolah akhirnya mendapatkan dana dari pemerintah, meskipun jumlahnya masih sangat terbatas. “Dana yang kami terima digunakan untuk membayar empat guru dan operator, membeli alat tulis, serta seragam olahraga dan batik,” jelasnya.

Selain kendala finansial, infrastruktur sekolah juga menjadi tantangan. Atap sekolah yang terbuat dari daun seng sudah bocor sehingga ruangan menjadi basah saat hujan. “Kami harus mengepel dulu sebelum memulai pelajaran. Dana dari kampung yang kami terima hanya cukup untuk memperbaiki sebagian kecil bangunan,” tambahnya.
Harapan untuk Masa Depan Pendidikan di Bintuni
Meski menghadapi berbagai tantangan, Mama Henny tetap optimis bahwa pendidikan di Teluk Bintuni dapat berkembang dengan dukungan dari berbagai pihak. Ia berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan di wilayah terpencil, terutama dalam penyediaan infrastruktur dan bantuan operasional.
“Saya bersyukur karena sekarang anak-anak yang dulu bersekolah di sini sudah ada yang melanjutkan ke jenjang SD, SMP, SMA, bahkan ada yang menjadi pegawai dan anggota TNI. Ini membuktikan bahwa pendidikan di daerah terpencil juga bisa melahirkan generasi yang sukses jika diberikan perhatian yang cukup,” tutupnya.
Dengan segala keterbatasan yang ada, perjuangan Mama Henny dan para guru honorer menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk mencerdaskan anak-anak Papua tetap menyala, meskipun menghadapi berbagai rintangan. (red)
