FAKFAK, PinFunPapua.com — SMA Negeri I Kokas memperingati hari jadinya yang ke-23 pada Senin (14/7/2025) dengan penuh semangat dan harapan. Perayaan ini menjadi momen penting untuk merefleksikan perjalanan panjang sekolah yang telah mencetak ribuan lulusan dan menorehkan berbagai prestasi, sekaligus menyuarakan tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan lembaga pendidikan tersebut.
Kepala SMA Negeri I Kokas, Budianto La Saole, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas kiprah sekolah selama lebih dari dua dekade. Sejak didirikan, sekolah ini telah meluluskan sedikitnya 1.223 alumni yang kini mengabdi di berbagai bidang seperti aparatur sipil negara (ASN), TNI/Polri, tenaga kesehatan, tenaga pendidik, serta sektor swasta baik di Kabupaten Fakfak maupun di berbagai daerah di Indonesia.
“SMA Negeri I Kokas telah menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bahkan pada tahun 2024, sekolah ini mewakili Provinsi Papua Barat dalam mengirimkan salah satu siswa sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) nasional. Ini bukti bahwa siswa kami mampu bersaing di tingkat nasional,” ungkap Budianto.
Tak hanya unggul dalam bidang non-akademik, sekolah ini juga mencatat pencapaian akademik yang signifikan. Beberapa siswa bahkan tengah diusulkan untuk menerima penghargaan dari Pemerintah Daerah atas keberhasilan mereka dalam bersaing dengan siswa dari berbagai SMA di seluruh Indonesia.

Namun, di balik deretan prestasi tersebut, Budianto juga mengungkapkan tantangan besar yang masih dihadapi sekolah, yakni persoalan status lahan. Ia menjelaskan bahwa hingga kini pembebasan lahan tempat sekolah berdiri belum sepenuhnya tuntas. Pada tahun 2019, SMA Negeri I Kokas sempat mengalami pemalangan akibat tuntutan hak ulayat.
Berbekal solidaritas alumni, tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat, sekolah berhasil menggalang dana sebesar Rp36.800.000 guna memenuhi sebagian tuntutan pemilik hak ulayat. Dari total tuntutan sebesar Rp200 juta, sekolah masih memiliki kewajiban pelunasan lebih dari Rp160 juta.
“Dana yang terkumpul ini telah membantu kami membayar sebagian tuntutan. Namun perjuangan belum selesai. Kami masih terus berupaya melunasi sisanya demi keberlangsungan sekolah ini,” ujarnya.
Permasalahan legalitas tanah tersebut juga menghambat upaya pengembangan infrastruktur sekolah. Dua program pembangunan—yakni pembangunan toilet dan rehabilitasi perpustakaan—harus dibatalkan oleh Direktorat Pendidikan karena sekolah belum memiliki sertifikat tanah. Akibatnya, SMA Negeri I Kokas hanya memperoleh anggaran untuk rehabilitasi perpustakaan sebesar Rp315 juta.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Legalitas lahan sangat menentukan arah pengembangan sekolah. Ke depan, kami sangat berharap dukungan semua pihak agar SMA Negeri Kokas memiliki sertifikat tanah yang sah,” tegas Budianto.
Peringatan HUT ke-23 SMA Negeri I Kokas ditutup dengan semangat kebersamaan dan optimisme. Mengusung tema “Ita Wagi Bisa” (Kitong Juga Bisa), kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda di Kokas mampu bersaing di berbagai bidang, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Risman)
