FAKFAK,PinFunPapua.com – Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Asy-Syafi’iyah Fakfak resmi menggelar pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXV Tahun Akademik 2025–2026. Kegiatan yang berlangsung di Kampus STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Selasa (28/7/2026), menjadi langkah awal dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum terjun mengabdi kepada masyarakat.
Pembekalan yang akan berlangsung selama lima hari, mulai 28 Juli hingga 1 Agustus 2026, diikuti oleh seluruh peserta KKN. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua I STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak Zulfiqar W. Bauw, S.E., M.M., Wakil Ketua II Hj. Rina Idrus, S.E., M.Si., Sekretaris LP2M Hj. Rima Idrus, S.H., M.Hum., para dosen, serta mahasiswa peserta KKN.
Dalam sambutannya, Ketua STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak, Drs. H. Mustagfirin, M.Si., menegaskan bahwa Kuliah Kerja Nyata merupakan bagian penting dari proses pendidikan tinggi yang tidak hanya menjadi syarat akademik, tetapi juga menjadi wahana pembelajaran langsung di tengah kehidupan masyarakat.
Menurutnya, selama mengikuti KKN mahasiswa akan menghadapi realitas sosial yang berbeda dengan suasana perkuliahan di kampus. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan masyarakat menjadi bekal utama sebelum menyusun proposal maupun skripsi.
“KKN adalah momentum bagi mahasiswa untuk belajar berinteraksi dengan masyarakat. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus mampu diterapkan dalam kehidupan nyata, bukan hanya menjadi teori di dalam kelas,” ujar Mustagfirin.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak memaksakan pola pikir maupun keinginan pribadi kepada masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa harus mampu memahami kondisi sosial yang dihadapi, kemudian menghadirkan solusi melalui pendekatan yang bijaksana dan partisipatif.
“Mahasiswa harus mampu mengubah cara berpikir masyarakat melalui pendekatan yang baik, bukan dengan memaksakan kehendak. Jadilah pendengar yang baik, pelajari kebutuhan masyarakat, lalu hadirkan solusi berdasarkan ilmu yang dimiliki,” pesannya.

Mustagfirin juga mengingatkan bahwa tantangan di lokasi KKN merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Kondisi lapangan yang mungkin minim fasilitas, terbatasnya akses air bersih, maupun berbagai persoalan lainnya tidak boleh dijadikan alasan untuk mengeluh.
Menurutnya, mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) sekaligus agent of social control (agen kontrol sosial) yang dituntut mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.
“Ketika menghadapi kondisi yang tidak sesuai harapan, itulah kenyataan yang harus dihadapi seorang mahasiswa. Jangan mudah mengeluh, tetapi jadikan tantangan sebagai pengalaman berharga untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan jiwa pengabdian,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berbagai aspek teknis pelaksanaan KKN akan dibekali secara mendalam oleh para dosen selama masa pembekalan agar mahasiswa memahami etika, tata cara berinteraksi, hingga pelaksanaan program kerja di lokasi penempatan.
Lebih lanjut, Mustagfirin menegaskan bahwa KKN merupakan mata kuliah wajib yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan di STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak. Mahasiswa tidak dapat menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Sarjana Administrasi Publik (S.AP.) maupun Sarjana Administrasi Bisnis (S.AB.) tanpa mengikuti tahapan tersebut.
Menurutnya, KKN juga menjadi implementasi nyata konsep Kampus Merdeka, yakni memberikan ruang kepada mahasiswa untuk mengaktualisasikan ilmu pengetahuan melalui pengabdian langsung kepada masyarakat.
Melalui pembekalan ini, STIA Asy-Syafi’iyah Fakfak berharap seluruh peserta KKN mampu menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang ditemui di tengah masyarakat, sehingga keberadaan mahasiswa benar-benar memberikan manfaat bagi daerah tempat mereka mengabdi.
“Ilmu akan menemukan maknanya ketika dibagikan kepada sesama. Seorang mahasiswa sejati bukan hanya mengejar gelar, tetapi meninggalkan jejak pengabdian yang membawa perubahan bagi masyarakat.”
(Jurnalis : Risman Bauw).
