MANOKWARI, PinFunPapua.com – Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manokwari, Imanuel Pangaribuan, S.Pd., M.Si., berharap Festival Budaya di Manokwari dapat menjadi agenda tahunan karena dinilai mampu memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya Nusantara sekaligus mendorong pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Harapan tersebut disampaikan Imanuel saat menghadiri penutupan Festival Budaya yang berlangsung di Manokwari City Mall pada Minggu (2/8/2026). Festival yang digelar selama tiga hari, mulai 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, menghadirkan berbagai paguyuban dari beragam daerah di Indonesia untuk menampilkan kekayaan budaya masing-masing.
Menurut Imanuel, penyelenggaraan festival tidak hanya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah promosi budaya, memperkuat persatuan, serta membuka peluang ekonomi bagi para pelaku UMKM yang berpartisipasi.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dari manajemen Manokwari City Mall, Festival Budaya tahun ini diikuti oleh 19 paguyuban yang berada di Kabupaten Manokwari. Ke depan, Dinas Pariwisata menargetkan seluruh paguyuban yang telah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Manokwari dapat berpartisipasi dalam kegiatan serupa.
“Sebagaimana disampaikan oleh manajemen Manokwari City Mall bahwa kegiatan ini diikuti oleh 19 paguyuban di Manokwari. Ke depan, kami memiliki pekerjaan rumah untuk menghadirkan seluruh paguyuban yang telah terdata di Kesbangpol Kabupaten Manokwari, yang hingga saat ini berjumlah 48 paguyuban,” ujar Imanuel.
Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Besar Yogyakarta (IKBY) Manokwari, Muhammad Subagyo Sugiarto, menjelaskan bahwa pada Festival Budaya tahun ini pihaknya menampilkan berbagai kesenian khas Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dari gamelan Mataraman, karawitan, hingga tari tradisional yang diperagakan di panggung utama.

Selain pertunjukan seni, IKBY Manokwari juga menghadirkan stan pameran yang menampilkan proses membatik secara langsung sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Kegiatan tersebut dipadukan dengan penyajian aneka kuliner khas Yogyakarta dan sekitarnya sehingga memberikan pengalaman budaya yang lebih lengkap kepada para pengunjung.
Menurut Subagyo, upaya memperkenalkan budaya Jawa tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni. IKBY Manokwari juga memanfaatkan teknologi digital dengan menayangkan edukasi mengenai aksara Jawa dan bahasa Jawa melalui videotron yang tersedia di lokasi festival.
Selain itu, pihaknya membagikan buku saku secara gratis kepada pengunjung yang berisi informasi mengenai sejarah Mataram Islam dan busana adat Jawa Mataraman. Edukasi sejarah lainnya juga dilakukan melalui kartu pos yang dipasang pada replika Patung Sugeng Rawuh yang memuat informasi mengenai sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya itu, gantungan kunci yang memuat informasi mengenai benda budaya dan cagar budaya juga dibagikan kepada pengunjung yang beruntung pada hari kedua pelaksanaan festival.
Dalam penyelenggaraan Festival Budaya kali ini, panitia memberikan dua kategori penghargaan, yakni penghargaan untuk stan terbaik dan penampilan terbaik. Penilaian stan terbaik dilakukan melalui sistem pemungutan suara (polling) menggunakan kode QR oleh para pengunjung, sedangkan penampilan terbaik dinilai langsung oleh panitia.
Namun demikian, Subagyo mengakui bahwa IKBY Manokwari belum berhasil meraih penghargaan sebagai stan terbaik. Menurutnya, hal tersebut diduga karena banyak pengunjung mengalami kesulitan saat mengakses sistem pemungutan suara.
Ia menjelaskan bahwa tampilan awal aplikasi pemungutan suara yang dipenuhi iklan membuat sebagian pengunjung khawatir bahwa kode QR tersebut mengarah pada tautan phishing sehingga mengurungkan niat untuk memberikan suara, meskipun mereka memberikan apresiasi positif terhadap stan IKBY Manokwari.
Meski gagal meraih penghargaan stan terbaik, IKBY Manokwari berhasil memperoleh penghargaan sebagai penampilan terbaik di atas panggung melalui sajian gamelan Mataraman.
Subagyo mengaku pencapaian tersebut berada di luar perkiraan karena sejak awal target utama kelompoknya hanyalah dapat tampil dengan baik di hadapan masyarakat.
“Jika akhirnya kami berhasil meraih penghargaan, tentu menjadi bonus sekaligus penyemangat bagi seluruh anggota yang telah berjuang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa mayoritas pemain gamelan yang tampil merupakan pemula. Bahkan, beberapa di antaranya hanya sempat mengikuti tiga kali latihan sebelum tampil di Festival Budaya. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar dan kerja sama mampu menghasilkan penampilan yang membanggakan.
Festival Budaya tahun ini juga menampilkan berbagai kekayaan budaya Nusantara lainnya, seperti batik, tari tradisional, peragaan busana adat, kuliner khas daerah, lagu daerah, hingga pencak silat. Berbagai penampilan tersebut menjadi bukti bahwa keberagaman budaya Indonesia dapat hidup berdampingan dan menjadi sarana mempererat persaudaraan antarmasyarakat.
Subagyo berharap pada penyelenggaraan festival berikutnya IKBY Manokwari dapat menghadirkan lebih banyak kesenian khas Yogyakarta, termasuk silat Mataraman yang merupakan salah satu warisan budaya daerah tersebut.
Usai penyerahan penghargaan dari manajemen Manokwari City Mall, Muhammad Subagyo Sugiarto yang juga menjabat sebagai Koordinator Wilayah Manokwari Pamerti Budaya Catur Sagatra Mataram menyerahkan penghargaan kepada Manokwari City Mall sebagai bentuk apresiasi atas komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian budaya Nusantara.
Penghargaan serupa juga diberikan kepada sejumlah paguyuban dari Pulau Jawa yang turut berpartisipasi dalam Festival Budaya, yakni Kerukunan Keluarga Pasundan, Kerukunan Karesidenan Madiun (KARIMA), Ikatan Keluarga Banyuwangi (IKAWANGI), serta Perkumpulan Masyarakat Tulungagung (PERMATA).
Sementara itu, penghargaan dari Pamerti Budaya Catur Sagatra Mataram kepada IKBY Manokwari diserahkan oleh perwakilan manajemen Manokwari City Mall dan diterima oleh Pelaksana Tugas Sekretaris IKBY Manokwari, Cito Waluyo.
Melalui penyelenggaraan Festival Budaya ini, berbagai pihak berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ruang pelestarian budaya Nusantara, memperkuat toleransi antarsuku, sekaligus menjadi media promosi bagi UMKM dan komunitas budaya di Kabupaten Manokwari. ( red )
