MANOKWARI, PinFunPapua.com – Pemerintah Provinsi Papua Barat mulai mematangkan skema transportasi laut dan udara guna mendukung pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) yang akan digelar di Manokwari. Kegiatan keagamaan berskala besar tersebut diperkirakan akan diikuti sekitar 8.000 hingga 10.000 peserta dari berbagai daerah, termasuk lima provinsi di Tanah Papua.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah langkah awal untuk memastikan kesiapan transportasi, baik laut maupun udara, agar mobilisasi peserta dapat berjalan lancar, aman, dan tertib selama pelaksanaan Pesparawi.
Untuk sektor transportasi udara, Dinas Perhubungan Papua Barat akan berkolaborasi dengan Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPTBU) Rendani Manokwari. Namun, pembahasan teknis terkait pengaturan penerbangan dan kapasitas bandara masih akan dilakukan secara terpisah setelah rapat panitia Pesparawi dilaksanakan secara menyeluruh.
“Untuk transportasi udara nanti dibicarakan secara terpisah karena topiknya berbeda. Setelah koordinasi dengan panitia, baru akan kami sampaikan secara resmi,” ujar Kepala Dinas Perhubungan kepada wartawan, Jumat (23/1/2026).
Sementara itu, untuk mendukung mobilisasi ribuan peserta melalui jalur laut, Pemerintah Provinsi Papua Barat mempertimbangkan penggunaan kapal berkapasitas besar atau konsep hotel terapung. Skema tersebut mengacu pada pola yang pernah diterapkan saat pelaksanaan Pesparawi di Kabupaten Teluk Wondama dan dinilai cukup efektif dalam menampung peserta dalam jumlah besar.
“Untuk transportasi laut, kami berharap bisa menggunakan pola seperti yang pernah dilakukan di Wondama. Pola tersebut dinilai efektif karena jumlah peserta yang sangat banyak,” jelasnya.
Terkait wacana penggunaan pesawat Hercules sebagaimana sebelumnya disampaikan oleh Sekretaris Daerah Papua Barat, Kepala Dinas Perhubungan menyatakan bahwa hal tersebut masih akan dikoordinasikan lebih lanjut. Menurutnya, setiap kebijakan yang disampaikan oleh Sekda tentu telah melalui pertimbangan matang dan perhitungan teknis.
“Kalau sudah disampaikan oleh Bapak Sekda, tentu ada pertimbangannya. Nanti setelah koordinasi lebih lanjut, kami akan sampaikan secara resmi,” ujarnya.
Untuk akomodasi laut, penggunaan satu hingga dua kapal besar masih menunggu keputusan final dari panitia Pesparawi. Keputusan tersebut akan mempertimbangkan ketersediaan fasilitas perhotelan di Manokwari serta kesiapan infrastruktur pendukung lainnya.
“Bisa satu atau dua kapal, tergantung keputusan panitia. Kita juga melihat dukungan hotel yang tersedia di Manokwari,” tambahnya.
Terkait pembiayaan, Kepala Dinas Perhubungan menegaskan bahwa pihaknya tidak masuk pada ranah tersebut. Pembiayaan sepenuhnya menjadi kewenangan panitia Pesparawi dan Pemerintah Provinsi Papua Barat yang dikoordinasikan melalui Sekretaris Daerah.
“Saya tidak masuk pada sisi pembiayaan. Itu menjadi kewenangan panitia dan Pemerintah Provinsi melalui Bapak Sekda,” tegasnya.
Dari sisi infrastruktur, ia memastikan bahwa pelabuhan di Manokwari memiliki kapasitas yang memadai untuk melayani sandarnya kapal besar. Pelabuhan Anggrem akan tetap difungsikan untuk kapal-kapal reguler, seperti kapal penumpang dan tol laut, guna mendukung mobilitas peserta. Sementara itu, kapal berkapasitas besar dapat diarahkan ke pelabuhan lain yang lebih representatif.
“Pelabuhan kita memungkinkan untuk kapal besar. Kapal-kapal reguler tetap beroperasi untuk mendukung mobilitas peserta Pesparawi,” pungkasnya. (JN)
